Malam itu hujan deras mengguyur kampung Mini di pinggiran Semarang. Griya Bu Rina Nan sederhana terasa lebih dingin dari Baju. lelakinya telah dua tahun meninggal, meninggalkan Beliau seorang diri mengurus dua anak Nan sekarang tinggal di desa Seiring orang Uzur. Usia Bu Rina baru 35 tahun, tubuhnya Tetap montok dan menggoda. Payudaranya Akbar, pinggulnya lebar, kulit sawo matangnya halus meski telah sering bekerja keras.
Setiap pagi Beliau bangun jam empat, Membikin bakpia di dapur kecilnya. Aroma kacang hijau dan gula merah selalu menyebar ke seluruh Griya. Siang harinya Beliau duduk di teras, menjajakan bakpia buatannya. cukup banyak pria di kampung Nan Tenang-Tenang melirik tubuhnya, tapi Bu Rina selalu menjaga jarak.
Tetangga sebelahnya, Mas Andi, pria 28 tahun bertubuh tegap bersama otot-otot keras dari pekerjaan serabutan sebagai tukang bangunan. Andi tinggal sendirian. telah Lambat Beliau mengintip Bu Rina dari jendela rumahnya. Setiap malam Beliau Memandang Bu Rina mandi di Bilik mandi belakang Nan hanya ditutup kain tipis. Fantasi gelapnya makin hari makin kuat. Beliau Mau menghancurkan janda itu bersama Langkah Nan brutal.
Malam hujan itu, listrik padam. Bu Rina sedang sendirian di Griya dikarenakan anak-anaknya menginap di desa. Tiba-tiba pintu Ambang diketuk keras.
“Bu Rina! Ini Andi tetangga sebelah. Griya saya Rembes parah, Memperoleh pinjam ember?”
Bu Rina ragu, tapi dikarenakan hujan deras dan Beliau merasa iba, Beliau membuka pintu. Begitu Andi masuk, Beliau langsung menutup pintu dan mengunci dari dalam. Gelap gulita.
“Mas Andi? Apa-apaan ini?” Bunyi Bu Rina bergetar.
Andi Tak menjawab bersama kata-kata. Beliau langsung mendorong tubuh Bu Rina ke Tembok kayu Nan dingin. Tangan besarnya mencengkeram leher janda itu kuat-kuat, Membikin napasnya tersengal.
“telah Lambat Saya pengen ngentot Anda, Bu. Janda montok gini, sendirian tiap malam. Malam ini Anda jadi milikku.”
Bu Rina panik, mencoba mendorong dada Andi. “Lepas! Tolong… jangan gila!”
Andi menampar Paras Bu Rina keras sekali. mulut bawahnya langsung berdarah. “Tenang, jalang! Kalau Gaduh, Saya bikin lebih sakit dari ini.”
Air mata Bu Rina langsung mengalir. Andi merobek baju tidur tipis Bu Rina bersama kasar. Payudaranya Nan Akbar langsung terpampang, pentil cokelatnya mengeras dikarenakan dingin. Andi langsung meremas buah dadad itu bersama brutal, jarinya mencubit pentil sampai Bu Rina menjerit kesakitan.
“Lezat ya, Bu? buah dadad gede gini Niscaya suamimu dulu sering hisap. Sekarang giliran Saya.”
Andi menunduk, menggigit pentil Bu Rina kuat-kuat. Gigi-giginya meninggalkan bekas merah. Bu Rina menangis Sembari meronta, tapi tubuhnya Nan lemah tak kuasa melawan pria bertubuh Akbar itu.
Andi menarik Lancingan dalam Bu Rina sampai robek. Jarinya langsung menyusup ke vagina Bu Rina Nan Tetap kering. Beliau meludahi telapak tangannya Lampau memasukkan dua jari sekaligus, mengaduk kasar tak memakai Maaf.
“Aduh… sakit, Mas! Tolong lepas!”
“Tetap kering? Saya bikin basah paksa.”
Andi membuka celananya sendiri. Penisnya telah tegang keras, Akbar, berurat, dan panjang. Beliau memaksa Bu Rina Menyerah di lantai dingin. Tangan kirinya memegang rambut Bu Rina kuat-kuat, tangan kanannya memegang penisnya Lampau mendorong masuk ke mulut janda itu.
“Hisap, jalang! Hisap kontolku dalam-dalam.”
Bu Rina tersedak. kontol Andi menyentuh tenggorokannya. Andi Tak memberi kesempatan bernapas, Beliau memegang kepala Bu Rina bersama dua tangan dan memompa maju-mundur bersama brutal. Air liur Bu Rina menetes deras, Kombinasi air mata. Setiap dorongan membuatnya Nyaris muntah.
Setelah puas menyiksa mulutnya, Andi menarik Bu Rina berdiri, membalikkan tubuhnya menghadap Tembok. Beliau meludahi vagina Bu Rina dari belakang, Lampau mendorong penisnya masuk bersama Esa hentakan keras.
“AAARRGHH!!” jerit Bu Rina. Vaginanya Nan sempit robek sedikit dikarenakan masuknya kasar itu. Andi tak Acuh. Beliau memegang pinggul Bu Rina erat, Lampau memompa bersama Sigap dan kuat. Setiap dorongan seperti pukulan palu.
“Lezat ya, Bu? Kontolku lebih gede dari suamimu kan? Bilang! Bilang Anda suka diginiin!”
Bu Rina hanya menangis. Andi menarik rambutnya ke belakang Sembari Lanjut memompa. Tangan satunya menampar pantat Bu Rina berkali-kali sampai memerah.
“Bilang, jalang!”
“Lezat… Mas… Lezat…” bisik Bu Rina lemah di antara isak tangis.
Andi makin liar. Beliau menarik Bu Rina ke meja dapur Loka adonan bakpia Tetap Eksis. Dibentangkannya tubuh Bu Rina di atas meja, kakinya dibuka lebar. Penisnya masuk lagi dari Ambang, menghantam-Hajar dalam. Tangan Andi meremas buah dadad Bu Rina sampai memerah dan meninggalkan bekas jari.
Malam itu baru permulaan. Andi belum puas. Beliau menyeret Bu Rina ke Bilik tidur, mengikat kedua tangan janda itu ke tiang ranjang bersama kain sarung. Lampau Beliau mengambil ikat pinggang kulitnya.
“Sekarang Saya ajarin Anda jadi budak seks Nan benar.”
Ikat pinggang itu mendera pantat Bu Rina keras. Setiap cambukan Membikin Bu Rina menjerit. Pantatnya Nan putih Sigap berubah merah dan bengkak. Andi tertawa Sembari mengocok penisnya Nan Tetap keras.
Setelah puas memukul, Beliau naik ke ranjang, meludahi anus Bu Rina Nan belum pernah disentuh, Lampau mendorong penisnya masuk ke lubang belakang itu bersama brutal.
“AAAKHHH!! Sakit!! Tolong jangan di situ!!”
“Andaikan suamimu dulu pernah nyobain lubang ini. Sekarang Saya Nan pertama.”
Andi memompa anus Bu Rina tak memakai Maaf. Darah tipis keluar, tapi Beliau Lanjut mendorong lebih dalam. Tangan kirinya mencekik leher Bu Rina, tangan kanannya mencubit klitoris janda itu kasar.
Bu Rina merasa tubuhnya hancur, tapi anehnya, di tengah Selera sakit Nan luar Normal, gelombang kenikmatan gelap mulai muncul. Tubuhnya bergetar hebat, vagina dan anusnya berkontraksi kuat. Beliau orgasme pertama kali malam itu, meski dalam keadaan dipaksa.
Andi merasakan kontraksi itu dan tertawa puas.
“Haha… Anda cum ya, jalang? Asas janda murahan. Malam ini baru mulai.”
Beliau menyemprotkan spermanya Nan panas dan kental jauh ke dalam anus Bu Rina, Lampau menarik penisnya keluar bersama Bunyi basah Nan memalukan.
Bu Rina tergeletak lemas, tubuh penuh memar, air mata, sperma, dan darah. Napasnya tersengal.
Andi berdiri di samping ranjang, penisnya Tetap Separuh tegang, menatap janda tetangganya bersama senyum puas.
“Ini baru malam pertama, Bu Rina. Besok malam Saya datang lagi. Dan lusa… dan seterusnya. Anda sekarang budak kontolku.”
Beliau mengenakan Lancingan, Lampau keluar dari Griya Bu Rina meninggalkan janda itu sendirian dalam kegelapan dan Selera sakit Nan bercampur aneh bersama kenikmatan terlarang.
Pagi harinya Bu Rina terbangun bersama tubuh Nan terasa hancur. Setiap gerakan Membikin otot-ototnya protes. Lehernya memar biru dikarenakan cekikan Andi, payudaranya penuh bekas gigitan dan remasan, pantatnya bengkak merah dikarenakan cambukan ikat pinggang, dan antara selangkangannya terasa perih luar Normal. Vaginanya dan anusnya Tetap lengket Residu sperma kering.
Beliau berdiri pelan di Ambang cermin Mini di Bilik. Air mata kembali mengalir Memandang kondisinya. “Kenapa Saya nggak teriak minta tolong semalam?” gumamnya dalam hati. Tapi Beliau tahu jawabannya: takut. Takut tetangga tahu, takut anak-anaknya di desa mendengar cerita Jelek tentang ibunya, takut Andi benar-benar membunuhnya kalau Beliau melawan terlalu keras.
Bu Rina mandi bersama air dingin. Setiap tetes air menyengat luka di tubuhnya, tapi Beliau memaksa diri membersihkan diri sebersih mungkin. Setelah itu Beliau memakai baju Lenggang agar memar tak terlihat, Lampau mulai Membikin bakpia seperti Normal. Aroma manis kacang hijau seolah menutupi bau dosa semalam.
Siang hari Beliau duduk di teras seperti Normal. Pembeli datang dan kesana. “Bakpianya Lezat sekali hari ini, Bu,” kata seorang Bunda Griya tangga. Bu Rina hanya tersenyum tipis, “Terima kasih, Bu.”
Tapi matanya sesekali melirik ke Griya Andi di sebelah. Pria itu keluar Sekeliling jam dua siang, Melangkah Rileks ke teras Bu Rina. Beliau membeli sepuluh biji bakpia seperti Normal, tapi disaat membayar, Beliau mendekatkan mulutnya ke telinga Bu Rina dan berbisik pelan:
“Malam tadi Lezat banget, Bu. Malam ini Saya datang lagi jam sembilan. Jangan tutup pintu. Kalau Anda kunci, Saya jebol pintunya.”
Bu Rina merinding. Vaginanya tak memakai sadar berkedut mengingat Selera sakit dan kenikmatan Nan bercampur semalam. Beliau hanya mengangguk lemah tak memakai berani menatap mata Andi.
Sepanjang sore Bu Rina Bimbang. Beliau memikirkan Buat kabur ke desa menemui anak-anaknya, tapi dagangannya belum selesai dan uangnya sangat terbatas. Akhirnya Beliau memutuskan Buat tetap di Griya. Malam itu Beliau sengaja Tak mengunci pintu Ambang.
Pas jam sembilan, Andi masuk tak memakai ketuk. Beliau telah mandi, wangi sabun, tapi matanya penuh nafsu binatang. Begitu Memandang Bu Rina duduk di kursi ruang tamu bersama baju tidur Lenggang, Beliau langsung mendekat.
“Bagus, Anda nurut. Sekarang buka bajumu. Pelan-pelan, biar Saya nikmati.”
Bu Rina berdiri gemetar. Beliau melepas baju tidurnya Esa per Esa. Tubuh telanjangnya kembali terpampang di Ambang Andi. Memar-memar semalam Tetap Jernih terlihat.
Andi tersenyum puas. “Hari ini Saya mau main lebih Lambat. Ikut ke dapur.”
Beliau menarik tangan Bu Rina ke dapur. Di sana Tetap Eksis Residu adonan bakpia Nan lembek. Andi mengambil segenggam adonan itu Lampau mengoleskannya ke buah dadad Bu Rina. Adonan lengket dan manis menempel di kulitnya.
“Sekarang menjilat Higienis payudaramu sendiri.”
Bu Rina menunduk, lidahnya menjilat adonan dari payudaranya sendiri. Andi mengocok penisnya Sembari menonton. Setelah buah dadad Higienis, Andi mendorong Bu Rina Menyerah di lantai dapur Nan dingin.
“Hisap kontolku Sembari tanganmu mainin payudaramu.”
Bu Rina membuka mulutnya. kontol Andi Nan telah keras masuk lagi. Kali ini Andi lebih sabar, tapi tetap kasar. Beliau memegang kepala Bu Rina dan mendorong sampai pangkal. Bu Rina tersedak, air liurnya menetes ke lantai. Andi menarik keluar, Lampau memukul Paras Bu Rina bersama penisnya Nan basah.
“Lebih dalam. Saya mau tenggorokanmu meremas kontolku.”
Bu Rina mencoba menurut. Beliau menelan kontol itu sejauh Nan Beliau Memperoleh. Andi mendesah keras, Lampau mulai memompa mulut Bu Rina bersama ritme Sigap. Air mata Bu Rina mengalir lagi, tapi Beliau Tak berani berhenti.
Setelah puas bersama mulut, Andi mengangkat tubuh Bu Rina dan membaringkannya di atas meja dapur. Kakinya dibuka lebar, Dengkul ditekuk ke dada. kontol Andi langsung menusuk vagina Bu Rina Nan telah agak basah dikarenakan ketakutan dan rangsangan paksa.
“Tetap agak Lenggang dari semalam,” kata Andi Sembari tertawa. Beliau memompa bersama hentakan-hentakan kuat. Meja dapur bergoyang keras. Tangan Andi meremas buah dadad Bu Rina Sembari mencubit putingnya berputar-putar.
Bu Rina menggigit mulutnya kuat-kuat agar Tak berteriak terlalu keras. Selera sakit bercampur kenikmatan lagi muncul. Andi merasakan vagina Bu Rina makin basah dan berdenyut.
“Anda mulai suka ya, jalang? Vaginamu ngisap kontolku sendiri.”
Andi mempercepat gerakannya. Setiap dorongan menghantam serviks Bu Rina. Bu Rina akhirnya Tak tahan, tubuhnya mengejang hebat. Beliau orgasme kedua kalinya, cairan beningnya menyembur keluar membasahi perut Andi.
Andi Tak berhenti. Beliau menarik penisnya keluar, Lampau mengarahkan ke anus Bu Rina. Kali ini Beliau meludahi lubang itu lebih cukup banyak, Lampau mendorong masuk perlahan tapi Niscaya.
“AAHHH… sakit lagi, Mas…”
“Biasain. Lubang belakangmu harus terlatih Lakukan kontolku setiap hari.”
Andi memompa anus Bu Rina bersama ritme sedang tapi dalam. Tangannya turun ke klitoris Bu Rina, menggosoknya kasar Sembari Lanjut menyetubuhi anusnya. Bu Rina merintih-rintih, campuran antara jeritan sakit dan desahan nikmat.
“Andi… pelan… ahh… lebih dalam…”
Andi tersenyum mendengar Bu Rina memanggil namanya tak memakai “Mas”. Itu pertanda janda itu mulai menyerah. Beliau mempercepat, tangannya mencengkeram pinggul Bu Rina kuat-kuat sampai meninggalkan bekas jari baru.
Akhirnya Andi meraung. Spermanya Nan panas menyembur deras ke dalam usus Bu Rina. Beliau menekan penisnya dalam-dalam Tiba tetes terakhir.
Setelah keluar, Andi Tak langsung kesana. Beliau duduk di kursi dapur, menyuruh Bu Rina membersihkan penisnya bersama mulut lagi. Bu Rina menurut, lidahnya menjilat Residu sperma, darah tipis, dan cairan vaginanya sendiri dari kontol Andi.
“Besok siang Saya datang pas Anda jualan,” kata Andi Sembari mengusap rambut Bu Rina seperti memelihara hewan peliharaan. “Kalau Eksis pembeli, Anda tetap senyum. Tapi begitu Sunyi, Saya tarik Anda ke belakang Griya. Mengerti?”
Bu Rina hanya mengangguk lemah. Tubuhnya Capek, tapi anehnya Eksis Selera hangat Nan mulai tumbuh di dadanya. Selera takut bercampur ketergantungan.
Andi berdiri, mengenakan Lancingan, Lampau mencium kening Bu Rina bersama tidak kasar Nan kontras bersama kekerasannya tadi.
“Tidur Nan nyenyak, budakku. Besok kita main di siang Bosor.”
Beliau keluar meninggalkan Bu Rina telanjang di meja dapur, cairan putih Tetap menetes pelan dari anusnya.
Bu Rina memandang langit-langit dapur Nan gelap. Beliau tahu hidupnya telah berubah selamanya. Dan bagian terdalam dari dirinya… mulai menantikan malam berikutnya.
Siang hari berikutnya cuaca panas terik. Bu Rina duduk di teras seperti Normal, gerobak bakpia di depannya. Beliau memakai baju kurung Lenggang agar memar di leher dan lengan tak terlihat Jernih. Tapi setiap kali Beliau Beralih, Selera perih di antara selangkangannya mengingatkannya pada malam tadi.
Sekeliling jam dua, Andi muncul dari Griya sebelah. Beliau Melangkah Rileks, memakai kaos oblong dan Lancingan pendek. Senyumnya licik disaat mendekati gerobak.
“Bakpia dua puluh biji, Bu,” katanya keras Agar tetangga Nan lewat mendengar.
Bu Rina mengambilkan bersama tangan gemetar. disaat Andi membayar, Beliau berbisik pelan, “Sunyi kan? Ikut ke belakang sekarang.”
Bu Rina menoleh kanan-kiri. Jalan kampung sedang lengang dikarenakan orang-orang istirahat siang. Beliau mengangguk pelan. Andi langsung Melangkah ke samping Griya, menunggu di halaman belakang Nan tertutup pagar bambu tinggi.
Begitu Bu Rina tiba, Andi langsung menariknya kasar ke pohon mangga Akbar. Tubuh Bu Rina didorong menghadap batang pohon, tangannya dipaksa memeluk pohon itu.
“Jangan Gaduh. Kalau Eksis Bunyi, Saya tampar.”
Andi mengangkat rok Bu Rina dari belakang, menurunkan Lancingan dalamnya sampai Dengkul. Penisnya telah keras sejak tadi. tak memakai cukup banyak kata, Beliau meludahi tangannya Lampau mengoles ke vagina Bu Rina, kemudian mendorong masuk bersama Esa hentakan kuat.
“Ughh…” Bu Rina menggigit mulutnya kuat-kuat. Selera perih Tetap Eksis dari malam sebelumnya, tapi vagina nya telah basah lebih Sigap.
Andi memegang pinggul Bu Rina bersama kedua tangan, memompa Sigap dan pendek. Bunyi benturan daging terdengar pelan di siang Bosor. Tangan kanannya naik ke buah dadad Bu Rina dari dalam baju, meremas kasar Sembari Lanjut menggenjot.
“Lezat ya, Bu? Diginiin di siang hari, tetangga Memperoleh lewat Bilamana saja.”
Bu Rina hanya mendesah tertahan. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama Andi. Keringat mereka bercampur dikarenakan panas Mentari. Andi mempercepat, tangannya turun ke klitoris Bu Rina, menggosoknya kasar bersama jari tengah.
lebih dari satu menit kemudian Bu Rina mengejang. Orgasme Mini datang Sigap. Cairannya menetes ke tanah. Andi tersenyum, Lampau menarik penisnya keluar dan mengarahkan ke anus Bu Rina.
“Kali ini lubang belakangmu Nan basah.”
Beliau mendorong masuk tak memakai cukup banyak pelumas. Bu Rina menjerit pelan, tangannya mencengkeram batang pohon. Andi menutup mulutnya bersama Esa tangan Sembari Lanjut memompa anusnya bersama ganas.
“Pelan… Mas… sakit…”
“Biasain. Lubangmu harus siap Bilamana saja Saya mau.”
Andi memompa lebih Sigap. Tubuh Bu Rina bergesekan bersama kulit pohon kasar, meninggalkan goresan Mini di payudaranya. Tak Lambat Andi mendesah keras, menyemprotkan spermanya dalam-dalam ke usus Bu Rina. Beliau menekan pinggulnya erat Tiba tetes terakhir, Lampau menarik keluar bersama Bunyi “plop” Nan memalukan.
Cairan putih langsung menetes dari anus Bu Rina ke tanah. Andi mengambil Lancingan dalam Bu Rina, mengelap penisnya bersama itu, Lampau melemparnya ke semak.
“Pakai rok saja pulang. Lancingan dalammu kotor.”
Bu Rina menurut. Beliau Melangkah kembali ke teras bersama kaki goyah, cairan Andi Tetap menetes pelan di paha dalamnya. lebih dari satu menit kemudian pembeli datang lagi. Bu Rina duduk Sembari tersenyum, pura-pura Normal, padahal selangkangannya lengket dan perih.
Malam harinya, Andi datang lagi Pas jam sembilan. Kali ini Beliau Tak sendirian. Di belakangnya Eksis Mas Budi, tukang ojek kampung Nan telah Lambat dikenal Bu Rina sebagai orang Bagus.
Bu Rina shock. “Mas Andi… ini kenapa?”
Andi tersenyum dingin. “Malam ini kita main bertiga. Budi telah Lambat pengen nyicip janda montok ini. Anda Tenang saja, atau Saya kasih tahu seluruh kampung apa Nan Anda lakukan semalam.”
Bu Rina mundur ketakutan, tapi Andi dan Budi telah masuk dan mengunci pintu. Mereka langsung menyeret Bu Rina ke ruang tamu.
Andi merobek baju Bu Rina sampai sobek total. Budi membuka celananya, penisnya lebih Mini tapi sangat keras. Andi mendorong Bu Rina Menyerah di tengah ruangan.
“Esa di mulut, Esa di vagina. Sekarang.”
Budi duduk di kursi, Bu Rina dipaksa menghisap penisnya. Andi dari belakang memasuki vagina Bu Rina bersama Esa dorongan keras. Dua kontol bekerja bersamaan. Bu Rina tersedak di Ambang, vagina nya dihantam dari belakang.
Andi memukul pantat Bu Rina keras. “Hisap lebih dalam!”
Budi memegang kepala Bu Rina, mendorong penisnya sampai tenggorokan. Air liur menetes deras. Andi memompa vagina bersama Sigap, tangannya mencubit pentil Bu Rina dari belakang.
Mereka bergantian posisi. Sekarang Andi duduk, Bu Rina naik ke pangkuannya menghadap Ambang. kontol Andi masuk ke vagina. Budi dari belakang memasuki anus Bu Rina. Double penetration Nan brutal.
Bu Rina menjerit keras. “Sakit!! Dua-duanya… terlalu penuh!!”
Andi menampar payudaranya. “Tenang! Nikmati saja.”
Kedua pria itu memompa bergantian. disaat Andi Sorong ke atas, Budi Sorong ke dalam. Bu Rina merasa tubuhnya mau robek. Tapi lagi-lagi, kenikmatan gelap datang. Beliau orgasme hebat, cairannya menyembur membasahi paha Andi.
Budi Nan pertama cum, menyemprotkan sperma ke dalam anus Bu Rina. Andi menyusul tak Lambat kemudian, mengisi vagina Bu Rina sampai penuh.
Mereka Tak berhenti. Bu Rina dibaringkan di lantai. Andi memasukkan penisnya Nan Tetap keras ke mulut Bu Rina, Budi ke vagina. Mereka bergantian lagi, memukul, mencubit, menjambak rambut Bu Rina.
Sekeliling Esa jam kemudian, kedua pria itu puas. Bu Rina tergeletak di lantai, tubuh penuh sperma, memar baru, dan cairan lengket di mana-mana.
Andi mengusap rambut Bu Rina. “Besok malam Budi bawa temannya lagi. Anda siap-siap jadi pelacur kampung kami.”
Bu Rina hanya Memperoleh menangis pelan. Tapi di dalam hatinya, Eksis bagian Nan telah mulai menikmati kehancuran ini.
Andi dan Budi kesana setelah membersihkan diri. Bu Rina merangkak ke Bilik mandi, membersihkan tubuhnya Nan kotor. Air hangat mengalir, tapi luka di hati dan tubuhnya makin dalam.
Beliau tahu besok akan lebih berat. Tapi entah kenapa, disaat memejamkan mata, Beliau Malah membayangkan dua kontol itu lagi.
Pagi harinya Bu Rina bangun bersama tubuh Nan makin rusak. Memar Lambat bertambah memar baru. Lehernya biru keunguan, payudaranya penuh bekas gigitan dan tamparan, pantatnya bengkak merah, vagina dan anusnya Tetap perih dan lengket meski telah dibersihkan semalam. Beliau berdiri pelan di Ambang cermin, Memandang wajahnya Nan pucat dan mata Nan sembab.
“Apa Nan Saya lakukan bersama hidupku?” gumamnya pelan. Tapi anehnya, disaat mengingat dua kontol Nan memasukinya bergantian semalam, vagina nya berkedut lagi. Eksis Selera malu Nan Akbar, tapi juga Eksis hasrat gelap Nan mulai tumbuh.
Beliau tetap Membikin bakpia seperti Normal. Aroma manis itu seolah menjadi topeng Buat rahasianya. Siang hari Beliau duduk di teras, senyum Imitasi Buat setiap pembeli. Andi lewat sekali, hanya melirik dan tersenyum licik tak memakai berkata.
Malam harinya, Pas jam sembilan, pintu diketuk. Bu Rina telah Tak mengunci lagi. Andi masuk Seiring Budi dan seorang pria baru: Mas Cakra, Kawan Budi Nan bekerja sebagai buruh pabrik. Tubuh Cakra lebih Akbar, tangannya kasar penuh kapalan.
“Malam ini kita bertiga, Bu,” kata Andi Sembari menutup pintu. “Cakra telah cerita Baju Saya, Beliau pengen banget nyicip janda penjual bakpia Nan katanya Lezat.”
Bu Rina mundur sampai punggungnya menyentuh Tembok. “Mas… cukup berdua saja… tolong…”
Andi mendekat, menampar pipi Bu Rina pelan tapi tegas. “Anda nggak mempunyai hak nolak. Buka baju. Sekarang.”
Bu Rina melepas bajunya bersama tangan gemetar. Tubuh telanjangnya Nan penuh memar Membikin ketiga pria itu tersenyum puas.
Mereka membawa Bu Rina ke Bilik tidur. Andi berbaring di ranjang, penisnya telah tegang.
“Duduk di kontolku, jalang. Hadap Ambang.”
Bu Rina naik ke pangkuan Andi, vagina nya perlahan menelan kontol Andi Nan Akbar. Beliau mendesah kesakitan disaat duduk penuh. Andi memegang pinggulnya dan mulai menggerakkan tubuh Bu Rina naik-turun bersama kasar.
Budi naik ke ranjang dari Ambang, memaksa penisnya masuk ke mulut Bu Rina. Bu Rina tersedak, tapi Budi memegang kepalanya dan memompa tenggorokannya.
Cakra dari belakang meludahi anus Bu Rina, Lampau mendorong penisnya Nan tebal masuk ke lubang belakang itu. Sekarang Bu Rina benar-benar penuh. Tiga lubangnya diisi sekaligus.
“AAARRGHH!!” jerit Bu Rina tertahan dikarenakan mulutnya penuh. Tubuhnya bergoyang hebat di antara tiga pria. Setiap dorongan dari bawah, Ambang, dan belakang membuatnya merasa seperti mau robek.
Andi tertawa. “Lihat, jalang. Anda sekarang jadi Loka buang sperma kami bertiga.”
Mereka bergantian memompa bersama ritme liar. Kadang dua Sorong bersamaan, kadang bergantian. buah dadad Bu Rina bergoyang keras, ditampar dan diremas oleh tangan-tangan kasar. Putingnya dicubit dan ditarik sampai memanjang.
Cakra Nan paling brutal. Beliau mencengkeram leher Bu Rina dari belakang Sembari memompa anusnya dalam-dalam. “Sempit banget lubang belakangmu. Lezat gue enekin.”
Bu Rina menangis, air matanya Anjlok ke dada Andi. Tapi tubuhnya berkhianat. Vaginanya makin basah, berkontraksi kuat di Sekeliling kontol Andi. Beliau orgasme pertama malam itu, cairannya menyembur membasahi selangkangan Andi.
Ketiga pria itu makin semangat. Mereka menukar posisi. Sekarang Cakra berbaring, Bu Rina duduk di penisnya (vagina), Andi memasuki anus dari belakang, Budi di mulut.
Double penetration di vagina dan anus Membikin Bu Rina menjerit tak memakai Bunyi. Mulutnya penuh kontol Budi. Tubuhnya digenjot seperti boneka seks.
Mereka Lanjut bergantian selama Nyaris dua jam. Bu Rina orgasme berkali-kali sampai tubuhnya lemas tak berdaya. Sperma mulai memenuhi setiap lubangnya.
Pertama Andi cum di dalam vagina, menyemprotkan cukup banyak sekali. Lampau Cakra cum di anus. Budi menarik penisnya dari mulut dan menyemprotkan sperma panas ke Paras dan buah dadad Bu Rina.
Tapi mereka belum puas. Bu Rina dibaringkan telentang di lantai. Kakinya dibuka lebar oleh Andi dan Budi. Cakra naik, memasukkan penisnya lagi ke vagina Nan telah penuh sperma Andi.
“Kombinasi sperma kita di dalam sini,” kata Cakra Sembari memompa kasar.
Setelah Cakra cum lagi, giliran Budi. Lampau Andi lagi. Mereka bergantian menyetubuhi Bu Rina di lantai, memukul payudaranya, menjambak rambutnya, mencubit klitorisnya sampai Bu Rina orgasme lagi dan lagi.
Akhirnya ketiga pria itu puas. Mereka berdiri mengelilingi Bu Rina Nan tergeletak lemas. Tubuhnya penuh sperma: Paras, rambut, buah dadad, perut, vagina, anus, semuanya lengket dan putih.
Andi menginjak buah dadad Bu Rina pelan bersama kakinya. “Besok malam kita bawa Esa orang lagi. Anda siap jadi pelacur kampung, Bu?”
Bu Rina hanya Memperoleh mengangguk lemah. Suaranya telah habis dikarenakan menjerit.
Ketiga pria itu membersihkan diri Lampau kesana. Bu Rina merangkak ke Bilik mandi, air mata bercampur sperma di wajahnya. Beliau membersihkan tubuhnya bersama tangan gemetar.
disaat air hangat mengalir, Beliau menyentuh vagina dan anusnya Nan bengkak. Selera sakit Tetap Eksis, tapi jarinya tak memakai sadar menggosok klitorisnya pelan. Beliau orgasme Mini sendirian di Bilik mandi, membayangkan besok malam akan Eksis empat pria.
Beliau keluar dari Bilik mandi, Memandang seprai Nan basah dan kotor. Besok Beliau harus cuci sebelum anak-anaknya pulang suatu hari.
Bu Rina berbaring di ranjang Nan Tetap bau sperma. Beliau memejamkan mata, dan Buat pertama kalinya, Beliau tersenyum Mini di tengah air mata.
“Besok… Saya mau lagi,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Beliau tahu Beliau telah Anjlok terlalu dalam. Tapi Beliau tak Mau berhenti.
Malam kelima menjadi malam Nan paling brutal sekaligus paling membebaskan bagi Bu Rina.
Pukul 20.30, empat pria telah berkumpul di Griya kecilnya: Andi, Budi, Cakra, dan Mas Dedi — buruh pabrik bertubuh paling Akbar di antara mereka. Mereka membawa tali tambang, cambuk kulit improvisasi dari ikat pinggang, dan sebotol minyak goreng sebagai pelumas kasar.
Begitu masuk, Andi langsung memerintah, “Buka baju. Telanjang total. Malam ini kita nggak main-main.”
Bu Rina berdiri di tengah ruang tamu, melepas Esa-satunya kain Nan menutupi tubuhnya. Empat pasang mata lapar menatap tubuhnya Nan telah penuh memar Lambat dan baru. Payudaranya bengkak, putingnya memerah dikarenakan sering dicubit, pantatnya Tetap Eksis bekas cambukan merah keunguan, vagina dan anusnya sedikit terbuka dikarenakan pemakaian lagi dan lagi.
Andi tersenyum. “Hari ini kita main full bondage dan gangbang tak memakai henti Tiba subuh.”
Mereka mengikat kedua tangan Bu Rina ke balok kayu di langit-langit Griya bersama tali tambang. Tubuhnya digantung Separuh, kaki dibuka lebar bersama tali lain Nan diikat ke kursi di kiri-kanan. Posisi itu Membikin vagina dan anusnya terbuka sempurna, tak Memperoleh menutup sedikit pun.
Cakra Nan pertama maju. Beliau meludahi vagina Bu Rina Lampau memasukkan penisnya Nan tebal bersama Esa hentakan keras sampai pangkal. Bu Rina menjerit. Tubuhnya bergoyang seperti ayunan dikarenakan tergantung.
Fana Cakra menggenjot vagina bersama ganas, Dedi berdiri di Ambang dan memaksa penisnya masuk ke mulut Bu Rina. Budi dari samping mencambuk buah dadad Bu Rina bersama ikat pinggang. Setiap cambukan keras meninggalkan garis merah baru di kulit sawo matangnya.
“Lebih keras!” teriak Andi Sembari mengocok penisnya sendiri.
Cambukan bertambah Sigap. buah dadad Bu Rina bergoyang liar, memerah, dan mulai bengkak. Air mata mengalir deras, tapi vagina nya makin banjir. Cakra merasakan itu, Lampau menarik keluar dan memasukkan ke anus Bu Rina tak memakai Jarak.
Sekarang Dedi pindah ke vagina, Budi ke mulut, Cakra ke anus. Andi berdiri di belakang, mencambuk pantat Bu Rina Nan telah terbuka lebar.
Empat lubang — mulut, vagina, anus, dan tangan Nan terikat — semuanya sibuk. Bu Rina hanya Memperoleh mendesah dan menjerit tertahan. Tubuhnya bergoyang hebat di tali. Orgasme datang bertubi-tubi. Beliau squirt Buat pertama kalinya malam itu, cairannya menyembur ke lantai seperti air mancur.
Mereka bergantian setiap 10-15 menit. Kadang dua kontol di vagina sekaligus (double vaginal), kadang Esa di vagina Esa di anus, kadang Seluruh bergiliran cum di dalam atau di luar tubuhnya.
Pukul 23.00, mereka menurunkan Bu Rina Nan telah lemas. Mereka membaringkannya di meja makan. Kaki dan tangannya diikat ke empat kaki meja dalam posisi telentang terbuka lebar.
Andi naik ke meja, memasukkan penisnya ke mulut Bu Rina sampai deep throat. Dedi dan Cakra memasukkan kontol mereka bersamaan ke vagina Bu Rina. Rasanya seperti mau robek. Bu Rina menjerit keras, tapi suaranya tertelan oleh kontol Andi.
Budi mengambil botol minyak goreng, menuangkannya cukup banyak-cukup banyak ke tubuh Bu Rina. Kulitnya mengkilap licin. Mereka memukul, meremas, mencubit, dan menggigit tubuhnya Nan licin itu.
Bu Rina orgasme lagi dan lagi. Tubuhnya kejang-kejang, mata melotot, air liur menetes dari Pandang Perspektif mulut. Sperma mulai memenuhi setiap lubang. Vaginanya penuh, anusnya penuh, mulutnya penuh, Paras dan payudaranya juga penuh.
Pukul 02.00 Awal hari, mereka Tetap belum berhenti. Bu Rina telah seperti boneka rusak. Suaranya habis, hanya desahan lemah Nan keluar. Mereka melepaskan ikatan, Lampau mengangkat tubuh Bu Rina seperti karung.
Andi berbaring di lantai. Bu Rina ditaruh di atasnya, vagina menelan kontol Andi. Cakra dari belakang memasukkan ke anus. Dedi dan Budi bergantian memasukkan ke mulut dan tangan Bu Rina.
Mereka memompa bersamaan bersama ritme liar. Bu Rina hanya Memperoleh pasrah. Tubuhnya naik-turun seperti mesin. Orgasme terakhirnya malam itu begitu kuat sampai seluruh tubuhnya kejang hebat, mata terbalik, cairan squirt menyembur deras membasahi Andi.
Esa per Esa mereka cum. Andi di dalam vagina, Cakra di anus, Dedi dan Budi di Paras dan mulut. Sperma mengalir deras dari Seluruh lubang Bu Rina.
Pukul 04.30 pagi, keempat pria itu akhirnya puas. Mereka membersihkan diri, Lampau meninggalkan Bu Rina tergeletak di lantai tengah ruangan. Tubuhnya penuh sperma kental, memar, cambukan, gigitan, dan minyak. Vagina dan anusnya terbuka lebar, Tetap meneteskan campuran sperma empat pria.
Andi berjongkok di Ambang Paras Bu Rina, mengusap rambutnya Nan lengket.
“Mulai hari ini, setiap malam Anda milik kami berempat. Kalau mau, kita tambah orang lagi. Anda tetap jual bakpia di siang hari, tapi malam hari… Anda jadi pelacur kampung kami. Mengerti?”
Bu Rina, bersama Bunyi parau Nyaris Lenyap, hanya mengangguk pelan. mulutnya Nan bengkak Beralih pelan:
“Ya… Saya mengerti… datang lagi besok… lebih cukup banyak…”
Andi tersenyum puas. Mereka berempat keluar dari Griya, meninggalkan Bu Rina sendirian di lantai Nan basah oleh cairan tubuhnya sendiri.
Bu Rina merangkak pelan ke Bilik mandi. Beliau Memandang bayangannya di cermin Mini Nan retak. Paras dan tubuhnya hancur, tapi matanya… bersinar aneh.
Beliau menyentuh vagina nya Nan bengkak, memasukkan dua jari, mengaduk campuran sperma di dalamnya. Lampau Beliau tersenyum Mini, bisik pada dirinya sendiri:
“Saya… telah jadi janda murahan… dan Saya suka.”
Pagi harinya, seperti Normal, Bu Rina bangun, mandi, dan Membikin bakpia. Aroma manis kacang hijau kembali menyebar. Beliau duduk di teras bersama senyum tidak kasar Buat para pembeli.
Tak Eksis Nan tahu, di balik senyum itu, vagina dan anusnya Tetap perih, Tetap penuh Residu malam tadi, dan Beliau telah menantikan malam berikutnya.
Di kampung Mini pinggiran Semarang itu, janda penjual bakpia telah menemukan “kenikmatan” baru Nan gelap, kasar, dan tak pernah berakhir.
TAMAT