Malam itu angin kencang dan hujan deras mengguyur Griya kami Nan sederhana di pinggiran Jakarta. Suamiku, seorang karyawan kantor, telah dua Pekan lamanya kesana dinas ke kota lain, meninggalkanku sendirian bersama Selera kesepian Nan makin hari makin membara di dada. Namaku Lestari, tiga puluh Esa tahun, seorang Bunda Griya tangga Normal bersama tubuh Nan cukup banyak pria pandang Tenang-Tenang. Kulitku putih mulus seperti susu segar, rambut hitam panjang lurus Tiba pinggang, payudaraku Akbar bulat kencang bersama pentil cokelat Belia Nan selalu mengeras disaat terangsang, pinggulku lebar mengundang, pantatku montok kenyal Nan bergoyang pelan disaat Melangkah, bibirku tebal merah alami, dan mataku Nan sipit Membikin wajahku terlihat menggoda meski Saya selalu Berjuang sopan. Malam itu Saya hanya memakai daster katun tipis tak memakai bra dikarenakan udara panas lembab, dan Lancingan dalam Mini Nan Nyaris tak tertutup. Tiba-tiba listrik padam total dikarenakan badai. Griya gelap gulita, Saya ketakutan sendirian. bersama tangan gemetar Saya ambil senter Mini dan berlari ke Griya sebelah, Griya Pak Joko, tetangga duda berusia empat puluh dua tahun Nan tubuhnya kekar berotot seperti mantan pekerja kasar. Saya ketuk pintu bersama Bunyi pelan.
Pintu terbuka Sigap. Pak Joko berdiri di ambang, tubuhnya basah kuyup dikarenakan hujan, baju kaos tipis menempel di dada bidang dan perut kerasnya Nan penuh otot. Matanya langsung menyusuri tubuhku dari atas ke bawah, berhenti Lambat di dada ku Nan tak memakai penutup, putingku menonjol Jernih di balik kain tipis. “Lestari, Eksis apa malam-malam begini?” suaranya berat dan dalam, Membikin bulu kudukku berdiri. Saya menunduk, merasa pipiku panas. “Listrik padam, Pak. Griya gelap sekali. Boleh tolong periksa sekringnya?” kataku bersama Bunyi bergetar. Beliau tersenyum tipis, tatapannya Tetap lapar. “Masuklah dulu. Badanmu menggigil kedinginan. Saya ambil senter Akbar.”
Saya melangkah masuk ke rumahnya Nan juga sederhana. Bau keringat pria bercampur aroma hujan menyengat hidungku, Membikin perutku bergejolak aneh. Beliau Melangkah di depanku, punggung lebarnya Nan basah Membikin dasterku terasa makin tipis. disaat Saya duduk di kursi kayu, Beliau mendekat dan “tak sengaja” lengannya menggesek pinggangku. Sentuhan itu panas seperti api, Membikin memekku berdenyut pelan. Saya Sigap menarik napas, Berjuang tenang. Dalam hati Saya berpikir, telah berbulan-bulan suamiku tak menyentuhku, dan sekarang tubuhku bereaksi hanya dikarenakan tatapan tetangga ini. Saya malu sekali, tapi Selera penasaran itu mulai merayap.
Pak Joko mengambil tangga dan naik ke Asbes melalui jendela belakang Buat memeriksa sekring. Saya berdiri di bawah, memegang senter untuknya. Angin malam meniup dasterku sampai naik sedikit, memperlihatkan paha dalamku Nan putih mulus. Matanya dari atas langsung tertuju ke sana. “Lestari, Anda sendirian Lanjut ya? Suami sering kesana, Iba Fisik montok seperti ini dibiarkan sendirian,” katanya Sembari tersenyum Bandel. Kata-katanya ambigu, tapi nada suaranya Membikin dadaku berdegup kencang. Payudaraku terasa berat, putingku makin mengeras. Saya menjawab pelan, “Iya Pak, telah Normal. Tapi malam seperti ini takut sendiri.” Beliau turun perlahan, tangannya lagi-lagi “tak sengaja” menyentuh pinggulku disaat melangkah turun. Kali ini sentuhannya lebih Lambat, jarinya mengusap pelan kulitku. Tubuhku menggigil nikmat, dan Saya merasakan cairan hangat mulai membasahi Lancingan dalamku. Memekku telah licin, Saya malu sekali tapi tak Memperoleh berhenti membayangkan tangan kasarnya meremas payudaraku Nan Akbar itu.
Kami kembali ke ruang tamu. Beliau minta Saya duduk tidak jauh Sembari minum air hangat Nan Beliau Lakukan. Kaki kami bersentuhan di bawah meja kayu. Saya tak berani menarik, malah merasa panas menyebar ke seluruh tubuh. “Badanmu menggoda sekali malam ini, Lestari. Daster tipis begitu, putingmu kelihatan Jernih,” katanya pelan, matanya tak lepas dari dada ku. Saya merona hebat, lenganku gemetar memegang gelas. Dalam hati Saya berteriak, ini salah, Saya istri orang, tapi kenapa memekku makin banjir? Saya membayangkan kontolnya Nan Niscaya Akbar dan tebal, menusuk dalam-dalam. telah Lambat Saya menyentuh diri sendiri di Bilik gelap, membayangkan pria seperti Beliau menghancurkan kesepianku. Saya takut, tapi Selera Dahaga itu makin kuat.
Pak Joko makin mendekat. “Kalau butuh apa pun, panggil Saya saja. Saya siap bantu Anda Bilamana saja, siang atau malam,” katanya Sembari tangannya kini sengaja meletak di paha ku. Jarinya mengusap pelan naik ke atas. Saya menahan napas, tubuhku panas sekali. “Pak… jangan,” kataku lemah, tapi suaraku tak meyakinkan. Beliau tersenyum, “Anda telah basah ya? Saya lihat dari matamu.” Saya tak Memperoleh Dusta lagi. Memekku banjir, cairan licin menetes pelan ke paha. Saya malu, takut, tapi penasaran Nan membara membuatku tak Beralih. Hujan makin deras, Bunyi gemuruhnya menutupi desah napasku Nan mulai tersengal.
Tiba-tiba Beliau berdiri, menarik lenganku pelan tapi tegas. “Jangan Dusta lagi, Lestari. Badanmu minta disentuh.” Saya berdiri gemetar, payudaraku naik turun Sigap. Beliau menarikku ke pelukannya, tubuh kekarnya menekan dada ku. Saya merasakan tonjolan Akbar di celananya menekan perutku. Itu kontolnya, panjang dan tebal, berdenyut panas. Saya takut tapi nikmat. “Pak… Saya telah bersuami,” bisikku lemah. Tapi tangannya telah meremas payudaraku keras, jempolnya memilin pentil cokelatku. Selera sakit nikmat menyebar, Membikin memekku makin licin. Saya tak Memperoleh menolak lagi.
Pak Joko tak memberi kesempatan menolak lagi. mulutnya langsung menyerbu mulut tebalku, ciuman ganas dan basah. Lidahnya menyusup masuk, mencicipi Selera mulutku Nan manis. Saya balas tak memakai sadar, lenganku memegang bahunya Nan berotot. Beliau menggigit mulut bawahku pelan, Lampau turun ke leher, menggigit dan menghisap sampai meninggalkan bekas merah. “Anda telah Lambat Dahaga ya, jalang Mini,” bisiknya kasar tapi seksi di telingaku. Tangan kasarnya merobek dasterku sampai terbuka, payudaraku Nan Akbar bulat langsung terpampang. Beliau meremas keduanya keras, jari-jarinya tenggelam di daging kenyal itu. Putingku ditarik dan dipilin, Selera panas dan nyeri bercampur nikmat membuatku mendesah keras. “Ahh… Pak… sakit tapi Lezat,” keluhku. Bau keringatnya Nan kuat bercampur aroma memekku Nan telah harum manis memenuhi ruangan.
Beliau mendorongku ke sofa kayu, membuka Lancingan dalamku kasar. Jarinya langsung menyusup ke memekku Nan basah licin. Tiga jari sekaligus masuk dalam-dalam, mengaduk cairan panasku. Bunyi cipratan basah terdengar Jernih di antara deru hujan. “Lihat, memekmu banjir banget. telah Lambat tak diisi kontol ya?” katanya Sembari menggerakkan jari Sigap. Saya menggeliat, pinggulku naik turun sendiri. “Ya Pak… Saya malu… tapi jangan berhenti…” desahku. Beliau tertawa pelan, Lampau menarik celananya. Kontolnya melompat keluar, panjang Nyaris dua puluh senti, tebal bersama urat-urat menonjol dan kepala merah mengkilap. Saya terpana, takut tapi Mau sekali.
Pak Joko memegang kepalaku, mendorong kontolnya ke mulutku. “Hisap dalam, jalang. Rasakan kontol tetanggamu.” Saya membuka mulut lebar, deepthroat kasar sampai ujungnya menyentuh tenggorokanku. Selera Masin dan panas memenuhi lidahku, air liurku menetes deras. Beliau mendorong pinggulnya, mengentot mulutku bersama ritme Sigap. Saya tersedak tapi nikmat, memekku makin banjir. Setelah puas, Beliau menarikku berdiri, membalik tubuhku, dan memasukkan kontolnya dari belakang dalam Esa hentakan keras. “Ahhh!” jeritku tertahan. Memekku terbelah lebar, Selera penuh dan panas Membikin tubuhku gemetar. Beliau mulai ngentot brutal, Bunyi plok-plok basah memenuhi ruangan. Pantatku montok bergoyang hebat setiap hantaman. Tangan kanannya meremas payudaraku, tangan kiri mencekik leherku ringan. “Bilang Anda milik kontolku sekarang, Lestari!” perintahnya. Saya menangis nikmat, “Iya Pak… Saya milik kontolmu… ngentot Saya lebih keras lagi!”
Beliau mengganti posisi, membaringkanku di lantai, mengangkat kakiku tinggi dan menyetubuhi lagi dalam posisi misionaris. Kontolnya menghantam titik paling dalam, membuatku orgasme pertama. Cairan memekku menyembur squirt, membasahi perutnya. “Lihat, Anda squirt seperti pelacur,” katanya Sembari Lanjut menghantam. Saya lemas tapi Beliau tak berhenti, membalikku ke doggy, menampar pantatku keras sampai merah. Spanking lagi dan lagi membuatku makin basah. Lampau Beliau mencoba lubang belakangku pelan, anal ringan Nan membuatku jerit kesakitan nikmat. “Pelan Pak… ahh… Lezat sekali…” Saya orgasme lagi, tubuhku kejang-kejang.
Beliau tarik keluar, memutar tubuhku ke posisi cowgirl. Saya naik turun sendiri di atas kontolnya, payudaraku bergoyang liar. “Goyang lebih Sigap, budak kontolku!” perintahnya. Saya memohon, “Mas… hancurkan memekku… isi Saya bersama sperma panasmu!” Beliau mendorong pinggulnya dari bawah, menghantam dalam. Orgasme ketiga dan keempat datang bertubi, Saya squirt lagi sampai lantai basah. Akhirnya Beliau mengerang keras, menyemburkan sperma panasnya dalam-dalam ke memekku. Creampie pertama terasa penuh dan hangat, sperma menetes keluar disaat Beliau tarik kontolnya. Tapi Beliau belum puas, menyembur lagi di wajahku dan payudaraku Nan Akbar. Selera Masin sperma di lidahku membuatku ketagihan.
Saya tergeletak lemas, tubuh gemetar, memekku bengkak merah dan penuh sperma. Pak Joko tersenyum puas, mengusap rambutku. “Anda sekarang budakku, Lestari. Besok malam Saya datang lagi… bersama temanku. Anda akan layani kami berdua sekaligus.” Mataku melebar, takut tapi nafsu baru telah bangkit. Saya tak Memperoleh menolak. Malam ini telah merusakku selamanya.
Pak Joko tak memberiku Masa istirahat Lambat. Beliau angkat tubuhku Nan lemas ke Bilik tidur, meletakkan di ranjang kayu. Kontolnya Nan Tetap Separuh tegang kembali mengeras disaat Memandang memekku Nan merah bengkak dan menetes sperma. “Anda belum puas kan, jalang?” tanyanya Sembari mengikat lenganku ke kepala ranjang bersama ikat pinggangnya. Bondage ringan ini membuatku merasa tak berdaya tapi makin basah. Beliau ambil lilin dari meja, menyalakan dan meneteskan lilin panas ke payudaraku. Selera panas menyengat putingku, bercampur nikmat. Saya melenguh keras, “Ahh Pak… sakit… tapi Saya suka…” Bau lilin bercampur bau sperma dan keringat memenuhi hidungku.
Beliau masukkan dua jari lagi ke memekku, mengaduk sperma creampie Nan Tetap Eksis, Lampau menambah Esa jari ke lubang belakang. Double penetration jari membuatku orgasme kelima, squirt menyembur ke wajahnya. Beliau menjilat cairanku bersama rakus, Selera manis Masin memekku membuatnya makin ganas. Lampau Beliau naik lagi, ngentot anal lebih dalam kali ini Sembari choking leherku lebih kuat. Bunyi desahanku tertahan, tubuhku kejang nikmat. mengganti posisi lagi ke standing doggy di Ambang cermin, Saya Memandang sendiri wajahku memerah, buah dadad bergoyang, memek dan pantatku dihantam bertubi. “Lihat dirimu, Lestari. Anda telah jadi pelacur tetangga,” katanya Sembari menampar pantatku lagi dan lagi.
Saya memohon tak memakai malu lagi, “Mas… ngewe Saya Lanjut… hancurkan Seluruh lubangku… Saya budak kontolmu selamanya!” Beliau menyembur sperma kedua di dalam analku, Lampau keluar dan creampie lagi di memekku. Sperma menetes deras ke lantai, bau asinnya kuat. Saya orgasme terakhir sampai pingsan Sejenak, tubuh lemas total. disaat sadar, Beliau memelukku pelan, mengusap rambutku. “Besok malam pukul delapan, Saya dan temanku datang. Siapkan tubuh montokmu. Anda tak boleh menolak lagi.” Saya mengangguk lemah, hati dan tubuhku telah ketagihan. Malam Nan merusakku ini baru permulaan.
Pagi setelah malam itu, tubuhku terasa remuk. Setiap Mobilitas Mini Membikin memek dan lubang belakangku berdenyut sakit nikmat. Sperma Pak Joko Tetap menempel kering di buah dadad dan wajahku disaat Saya mandi pagi. Saya memandang cermin, Memandang bekas merah di leher, pinggul, dan pantat montokku Nan penuh cap tangan. Putingku Tetap bengkak, sensitif sekali sampai hanya hembusan angin pun membuatku menggigil. Saya malu, tapi di antara Selera bersalah itu, Eksis getaran aneh Nan Lanjut berdenyut di bawah perut. Saya telah ketagihan. Saya tahu malam ini Beliau akan datang lagi… Seiring temannya.
Sepanjang hari Saya Bimbang. Suamiku menelepon Sejenak, bertanya Info bersama Bunyi Capek. Saya menjawab Normal, “Bagus-Bagus saja, Mas. Kangen.” Tapi pikiranku melayang ke kontol tebal Pak Joko Nan menghancurkan tubuhku semalam, ke Selera penuh disaat sperma panasnya memenuhi rahimku. Saya basah lagi hanya bersama mengingatnya. Siang menjelang sore Saya membersihkan Griya, tapi lenganku gemetar. Saya memakai daster baru Nan lebih pendek, tak memakai bra lagi, tak memakai Lancingan dalam. Saya tahu apa Nan akan terjadi malam ini. Saya Mau siap.
Pukul delapan Pas, ketukan pelan di dubur. Jantungku berdegup kencang. Saya membuka pintu perlahan. Pak Joko berdiri di sana, tersenyum puas, di sampingnya seorang pria lebih Belia, mungkin tiga puluh lima tahun, tubuhnya lebih ramping tapi berotot kencang, kulit sawo matang, rambut Pendek pendek. Namanya Andi, katanya Pak Joko Sembari masuk tak memakai permisi. Andi memandangku dari atas Tiba bawah, matanya langsung tertuju ke buah dadad Nan menonjol di balik kain tipis. “Ini Nan Anda ceritakan, Mas Joko? Montok banget ya,” katanya Sembari menjilat mulut. Saya menunduk, pipiku panas, tapi memekku telah mulai berdenyut lagi.
Mereka masuk ke ruang tamu. Lampu redup, hanya Sinar lampu tidur kuning Nan Membikin bayangan tubuhku terlihat lebih menggoda. Pak Joko langsung duduk di sofa, menarikku ke pangkuannya. “Malam ini Anda layani kami berdua, Lestari. Jangan menolak. Anda telah berjanji jadi budak kontolku.” Suaranya tegas, tapi Eksis nada mesra Nan membuatku lemas. Andi berdiri di Ambang, membuka kancing celananya pelan. Kontolnya telah Separuh tegang, lebih panjang dari Pak Joko meski tak se-tebal, mungkin dua puluh dua senti, urat-uratnya menonjol Jernih. Saya menelan ludah, takut tapi Dahaga.
Pak Joko merobek dasterku dari belakang dalam Esa tarikan. Payudaraku Nan Akbar terbebas, bergoyang pelan. Andi langsung mendekat, meremas keduanya keras Sembari menciumi putingku. Lidahnya berputar di Sekeliling pentil cokelatku Nan telah mengeras, Lampau menggigit pelan. Selera nyeri nikmat membuatku mendesah keras. “Ahh… pelan Mas…” keluhku. Pak Joko tertawa Mini, tangannya telah menyusup ke antara pahaku, jari tengahnya langsung masuk ke memekku Nan telah licin. “telah basah dari tadi ya, jalang. Memekmu memang Dahaga kontol.”
Andi mendorong kepalaku ke bawah. “Hisap kontolku dulu, biar keras.” Saya membuka mulut lebar, menelan kepala kontolnya Nan panas. Selera Masin dan maskulin memenuhi lidahku. Saya mengulum dalam-dalam, lidahku berputar di Sekeliling batangnya. Pak Joko dari belakang memasukkan dua jari ke memekku, mengaduk Sigap sampai Bunyi cipratan basah terdengar Jernih. Andi mendorong pinggulnya, deepthroat kasar sampai Saya tersedak, air liur menetes ke dagu. “Bagus… mulutmu Lezat sekali,” desah Andi Sembari memegang rambutku.
Mereka bergantian. Pak Joko menarikku berdiri, membalik tubuhku, Lampau menyetubuhiku dari belakang Sembari berdiri. Kontol tebalnya menghujam masuk dalam Esa dorongan keras. “Ahhh!” jeritku tertahan. Andi berdiri di Ambang, memasukkan kontolnya ke mulutku lagi. Saya sekarang diapit dua kontol: Esa mengentot memekku brutal dari belakang, Esa lagi mengentot mulutku dari Ambang. Bunyi plok-plok basah bercampur desahan dan erangan mereka. Payudaraku bergoyang liar setiap hantaman. Bau keringat pria, aroma memekku Nan harum manis, dan bau sperma mulai memenuhi ruangan.
Pak Joko menarik keluar, membaringkanku di lantai. Andi naik ke atas, memasukkan kontol panjangnya ke memekku dalam posisi misionaris. Beliau ngentot Sigap dan dalam, menghantam titik G-ku lagi dan lagi kali. Saya orgasme pertama malam itu, cairan memekku menyembur squirt ke perut Andi. “Lihat, Beliau squirt lagi,” kata Pak Joko Sembari tertawa. Andi Lanjut menghantam, Lampau menarik keluar dan memasukkan ke lubang belakangku pelan. Anal bersama kontol Nan lebih panjang terasa lebih menyakitkan, tapi nikmatnya luar Normal. Saya menjerit, “Sakit… tapi Lezat… Lanjut Mas!”
Pak Joko naik ke wajahku, memasukkan kontolnya ke mulutku lagi. Double penetration sungguhan: Andi di lubang belakang, Pak Joko di mulut. Tubuhku digoyang-goyangkan seperti boneka. Saya orgasme kedua, ketiga, keempat bertubi-tubi. Memek dan pantatku bengkak merah, penuh cairan. Mereka mengganti posisi lagi: Saya duduk di atas Pak Joko dalam posisi cowgirl, kontol tebalnya mengisi memekku penuh. Andi dari belakang memasukkan kontolnya ke lubang belakangku. Double penetration penuh, dua kontol sekaligus mengisi dua lubangku.
Selera penuh luar Normal membuatku menangis nikmat. “Hancurkan Saya… isi Saya berdua… Saya budak kalian!” jeritku tak memakai malu lagi. Mereka ngentot Sesuai, Bunyi plok-plok basah dan desahan keras memenuhi ruangan. Payudaraku diremas kasar, putingku dipilin, leherku dicekik ringan. Saya squirt lagi, kali ini deras Tiba membasahi paha mereka. Akhirnya Pak Joko mengerang keras, menyemburkan sperma panasnya dalam-dalam ke memekku. Andi mengikuti, creampie di lubang belakangku. Sperma menetes keluar dari kedua lubangku, bercampur cairan memekku Nan licin.
Mereka tarik keluar, menyemburkan Residu sperma ke Paras, buah dadad, dan perutku. Saya tergeletak lemas, tubuh gemetar, napas tersengal. Sperma Masin menempel di bibirku, Saya menjilatnya pelan tak memakai sadar. Pak Joko mengusap rambutku, “Bagus, Lestari. Anda telah jadi budak sempurna.” Andi tersenyum, “Besok malam lagi ya? Kali ini Saya bawa Esa temen lagi. Tiga kontol Lakukan memek dan pantat montokmu.”
Saya tak Memperoleh berkata, hanya mengangguk lemah. Tubuh dan pikiranku telah rusak total. Malam Nan merusakku ini tak akan pernah berakhir.
Hari itu berlalu seperti mimpi Jelek Nan manis. Tubuhku Tetap terasa penuh bekas malam sebelumnya: memek dan lubang belakangku bengkak, sensitif sekali sampai setiap langkah Membikin cairan licin menetes pelan ke paha dalam. Payudaraku penuh cap jari merah keunguan, pentil cokelatku kasar dikarenakan digigit dan dipilin lagi dan lagi. Saya mandi berkali-kali, tapi bau sperma Masin dan keringat pria Tetap melekat di kulitku. Saya tak Memperoleh berbohong lagi pada diri sendiri—Saya menantikan malam ini. Ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, Saya telah siap. Daster hitam tipis tak memakai apa pun di bawahnya, rambut terurai panjang, mulut merah tebal Saya poles sedikit lipstik merah darah. Saya tahu mereka akan datang bertiga.
Ketukan pelan di dubur pukul delapan Pas. Saya membuka bersama tangan gemetar. Pak Joko berdiri di Ambang, di sampingnya Andi, dan pria ketiga Nan belum pernah kulihat. Namanya Dedi, katanya Pak Joko Sembari tersenyum puas. Dedi lebih Belia lagi, mungkin Awal tiga puluhan, tubuhnya paling berotot di antara mereka, dada bidang penuh bulu halus, lengan kekar seperti tukang angkat besi. Matanya langsung menelanjangiku, berhenti Lambat di buah dadad Nan menonjol dan pinggul lebarku. “Ini Nan katanya montok dan Dahaga kontol ya, Mas Joko?” suaranya kasar, penuh nafsu. Saya menunduk, tapi memekku telah berdenyut kuat, cairan hangat mulai membasahi paha dalam.
Mereka masuk tak memakai berkata cukup banyak. Lampu ruang tamu Saya redupkan, hanya Sinar lilin Mini Nan berkedip-kedip. Bau minyak wangi murah dari tubuh mereka bercampur aroma hujan malam Membikin udara terasa berat dan panas. Pak Joko langsung menarikku ke tengah ruangan, mendorongku Menyerah di karpet. “Malam ini Anda layani kami bertiga, Lestari. Tak Eksis penolakan. Anda budak kontol kami sekarang.” Saya mengangguk lemah, mata berkaca-kaca dikarenakan campuran takut dan Dahaga Nan membara.
Andi membuka celananya lebih dulu. Kontol panjangnya telah tegak penuh. Dedi mengikuti, kontolnya tebal pendek tapi sangat Akbar kepalanya, seperti tinju Mini. Pak Joko Nan terakhir, kontol tebal berurat Nan telah kukenal Bagus. Ketiganya berdiri mengelilingiku. Saya merasa Mini, tak berdaya, tapi itu Malah Membikin memekku makin banjir.
“Mulai dari mulutmu dulu,” perintah Pak Joko. Saya membuka mulut lebar. Andi memasukkan kontolnya lebih dulu, deepthroat kasar sampai tenggorokanku terasa penuh. Air liur menetes deras ke dagu. Dedi menggantikan, kontol tebalnya memaksa mulutku terbuka lebar, Selera Masin kuat memenuhi lidah. Pak Joko menyusul, mendorong pinggulnya sampai hidungku menempel di perutnya. Mereka bergantian mengentot mulutku, tangan mereka memegang rambutku, menarik kepalaku maju mundur. Bunyi gluk-gluk basah dan desahanku tertahan memenuhi ruangan. Payudaraku diremas kasar oleh tangan Nan tak kukenal, putingku dipilin sampai Saya menjerit pelan di antara kontol Nan mengisi mulut.
Setelah puas, mereka angkat Saya ke meja makan kayu. Pak Joko berbaring di atas meja, menarikku naik ke atasnya dalam posisi cowgirl. Kontol tebalnya menghujam masuk ke memekku dalam Esa dorongan keras. “Ahhh… penuh sekali Mas…” jeritku. Andi dari belakang memasukkan kontol panjangnya ke lubang belakangku pelan tapi Niscaya. Double penetration lagi, tapi kali ini lebih dalam dikarenakan posisi. Dedi berdiri di Ambang, memasukkan kontol tebalnya ke mulutku. Tiga lubangku terisi sekaligus.
Mereka mulai Beralih Sesuai. Pak Joko menghantam dari bawah, Andi dari belakang, Dedi mengentot mulutku. Tubuhku digoyang-goyangkan seperti boneka rusak. Selera penuh luar Normal Membikin kepalaku pusing nikmat. Memekku berdenyut keras, cairan squirt menyembur pertama kali setelah lebih dari satu menit, membasahi perut Pak Joko. “Lihat, jalang ini squirt lagi,” kata Dedi Sembari tertawa kasar. Mereka tak berhenti, malah makin ganas. Tangan Dedi meremas payudaraku keras, menampar pantat montokku sampai merah membara. Spanking lagi dan lagi membuatku orgasme kedua, ketiga, keempat bertubi-tubi.
Mereka mengganti posisi. Saya dibaringkan telentang di lantai, kaki diangkat tinggi. Dedi naik ke atas, memasukkan kontol tebalnya ke memekku. Andi ke lubang belakang, Pak Joko kembali ke mulut. Triple penetration penuh, tiga kontol sekaligus menghancurkan tubuhku. Bunyi plok-plok basah sangat keras, bercampur jeritan tertahanku dan erangan mereka. Bau keringat, sperma, dan memek basah memenuhi seluruh ruangan. Saya tak Memperoleh berpikir lagi, hanya merasakan gelombang nikmat Nan tak henti-hentinya.
Pak Joko keluar lebih dulu, menyemburkan sperma panasnya ke Paras dan payudaraku. Andi mengikuti, creampie dalam lubang belakangku sampai sperma menetes deras. Dedi Nan terakhir, mendorong dalam-dalam ke memekku, menyemburkan cukup banyak sekali sampai rahimku terasa penuh dan hangat. Sperma menetes keluar dari kedua lubang bawahku, bercampur cairan memekku Nan licin. Saya orgasme terakhir sampai tubuhku kejang-kejang, squirt terakhir menyembur lemah ke lantai.
Saya tergeletak lemas total, napas tersengal, tubuh gemetar. Sperma menutupi Paras, buah dadad, perut, dan mengalir dari memek serta pantatku. Ketiganya berdiri di atas, memandangku puas. Pak Joko mengusap pipiku Nan basah air mata dan sperma. “Anda luar Normal malam ini, Lestari. Tapi ini belum akhir.”
Dedi tersenyum lebar. “Besok malam Saya bawa dua temen lagi. Lima kontol Lakukan tubuh montokmu. Anda siap kan, budak?”
Saya tak Memperoleh berkata, hanya mengangguk pelan Sembari menatap mereka bersama mata Nan telah Hampa tapi penuh nafsu. Malam Nan merusakku ini telah menelan jiwaku sepenuhnya. Dan Saya tahu, besok malam akan lebih gelap, lebih brutal, lebih tak terkendali.
Malam keenam setelah semuanya dimulai, Saya telah tak lagi menghitung. Tubuhku bukan milikku lagi. Setiap inci kulit putih mulusku penuh bekas: memar ungu di leher dari cekikan, cap jari merah di buah dadad Akbar Nan kini selalu sensitif, pantat montokku Nan dulu kenyal sekarang penuh garis-garis merah dari tamparan lagi dan lagi, memek dan lubang belakangku bengkak permanen, selalu basah meski tak disentuh. Saya tak lagi malu Memandang cermin. Saya hanya Memandang seorang Wanita Nan telah rusak, tapi anehnya, Saya tak Mau kembali ke kehidupan sebelumnya.
Pagi itu suamiku menelepon lagi. Suaranya terdengar Capek, tapi Eksis nada khawatir. “Lestari, Saya pulang besok malam. Anda Bagus-Bagus saja kan? Suaramu aneh akhir-akhir ini.” Saya menjawab pelan, “Iya Mas, Saya Bagus. Tunggu Anda di Griya.” Setelah telepon ditutup, Saya menangis Tenang-Tenang. Bukan dikarenakan bersalah, tapi dikarenakan Saya tahu malam ini Ialah malam terakhir. Saya harus memutuskan: lanjut atau berhenti selamanya.
Pukul delapan malam, ketukan di dubur lebih keras dari Baju. Saya membuka tak memakai ragu. Pak Joko, Andi, Dedi, dan dua pria baru Nan mereka janjikan. Lima kontol, lima pria Nan telah mengenal setiap lubang tubuhku. Mereka masuk seperti pemilik Griya. Lampu Saya matikan total, hanya Sinar bulan dari jendela Nan menyelinap masuk, Membikin bayangan tubuh mereka terlihat lebih menakutkan dan menggoda.
“Anda telah siap jadi mainan kami malam ini, Lestari?” tanya Pak Joko Sembari menarik rambutku pelan. Saya mengangguk, Bunyi bergetar. “Ini malam terakhir. Besok suamiku pulang. Setelah ini… selesai.” Mereka tertawa pelan, tapi tak Eksis Nan menolak. Malah mata mereka makin lapar.
Mereka tak buang Masa. Saya langsung ditelanjangi, dibaringkan di lantai ruang tamu Nan dingin. Dua pria baru—namanya Rian dan Budi—langsung merangsek. Rian tubuhnya paling tinggi, kontolnya panjang kurus tapi sangat lentur. Budi lebih pendek tapi kontolnya Gendut, kepalanya Akbar seperti jamur. Mereka berlima mengelilingiku lagi.
Mulai dari mulut. Lima kontol bergantian masuk ke mulutku, Esa per Esa, kadang dua sekaligus memaksa mulut tebalku terbuka lebar. Air liur menetes deras, bercampur precum Masin Nan memenuhi tenggorokanku. Saya tersedak lagi dan lagi, tapi mereka tak Acuh. Tangan mereka meremas payudaraku keras, menampar pantatku, mencubit putingku sampai Saya menjerit tertahan.
Lampau mereka angkat Saya ke meja makan lagi. Pak Joko berbaring, Saya naik ke atasnya, kontol tebalnya menghujam memekku penuh. Andi dari belakang masuk ke lubang belakang. Dedi memasukkan kontol tebalnya ke mulutku. Rian dan Budi bergantian meremas dan menjilat payudaraku, kadang memasukkan jari ke memekku Nan telah penuh, Membikin double penetration di bawah jadi triple. Selera penuh luar Normal, tubuhku seperti akan robek, tapi nikmatnya membuatku orgasme pertama dalam hitungan menit. Squirt menyembur deras, membasahi perut Pak Joko dan lantai.
Mereka mengganti posisi berkali-kali. Saya diangkat seperti boneka: standing sandwich, dua kontol di bawah (memek dan pantat), Esa di mulut, dua lagi di tangan dan buah dadad. Saya mengocok dua kontol sekaligus Sembari digoyang-goyangkan. Bunyi plok-plok basah, desahan keras, tamparan pantat, cekikan leher, semuanya bercampur jadi simfoni nafsu. Saya orgasme lagi dan lagi: kelima, keenam, ketujuh… Tiba Saya tak Memperoleh hitung lagi. Tubuhku kejang-kejang, squirt demi squirt membasahi lantai sampai licin.
Akhirnya mereka bersiap klimaks. Esa per Esa mereka tarik keluar dan menyemburkan sperma panas ke tubuhku. Pak Joko di wajahku, Andi di buah dadad, Dedi di perut, Rian di pantat, Budi di paha dalam. Sperma menetes dari mana-mana, bau Masin kuat memenuhi ruangan. Saya tergeletak di lantai, tubuh gemetar, napas tersengal, memek dan lubang belakangku melebar, penuh sperma Nan mengalir keluar pelan.
Mereka berdiri di atas, memandangku puas. Pak Joko berjongkok, mengusap pipiku Nan basah air mata, sperma, dan keringat. “Anda luar Normal, Lestari. Tapi kalau suamimu pulang besok… apa Anda Memperoleh kembali normal?”
Saya menatapnya Lambat, Bunyi serak. “Saya nggak tahu, Pak. Tapi malam ini… Saya telah hancur total. Dan Saya nggak menyesal.”
Mereka kesana Esa per Esa setelah membersihkan diri. Griya kembali sunyi, hanya Bunyi hujan tipis di luar. Saya berbaring di lantai berjam-jam, tak Beralih. Sperma mengering di kulitku, bau nafsu Tetap menempel. Besok suamiku pulang. Saya harus mandi, membersihkan Griya, tersenyum seperti Normal, berpura-pura semuanya Bagus-Bagus saja.
Tapi di dalam dada, Saya tahu: malam Nan merusakku ini tak akan pernah benar-benar selesai. Setiap kali Saya menutup mata, Saya akan merasakan lagi Selera penuh, sakit nikmat, dan orgasme Nan tak terkira. Saya telah berubah selamanya. Dan suatu disaat nanti—mungkin besok, mungkin sebulan lagi—Saya akan merindukan ini lagi. Mungkin Saya akan mencari mereka. Mungkin Saya akan membuka dubur Tenang-Tenang.
Malam itu, Saya tertidur di lantai bersama senyum Mini di mulut. Rusak, tapi puas.
TAMAT