Di sebuah perumahan elit di pinggiran Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Kemang, Eksis sebuah Griya dua lantai bergaya minimalis Nan selalu Sunyi setelah pukul sepuluh malam. Griya itu milik seorang wanita bernama Larasati, 32 tahun, janda Belia Nan ditinggal suami dikarenakan kecelakaan motor tiga tahun Lampau. Larasati tinggi ramping, kulitnya putih susu bersama sedikit Rona keemasan dikarenakan sering berjemur di rooftop apartemen lamanya. Rambut hitam lurus sepanjang punggung, selalu tergerai atau diikat ponytail tinggi Nan Membikin leher jenjangnya terlihat makin menggoda. Payudaranya Akbar tapi kencang, bentuknya bulat sempurna ukuran 36D, pentil cokelat Belia Nan selalu mengeras begitu udara malam menyentuhnya. Pinggulnya lebar, pantatnya bulat montok bersama garis celah Nan dalam, Membikin setiap Lancingan ketat Nan dipakainya terlihat seperti Mau robek. mulutnya tebal alami, selalu merah basah dikarenakan sering digigit sendiri disaat Bimbang.

Malam itu hujan deras. Larasati baru pulang dari kantor—Beliau bekerja sebagai marketing manager di sebuah perusahaan properti. Baju kerja ketatnya basah kuyup, blus putih tipis menempel di kulit, bra hitam renda tembus pandang samar-samar terlihat. Rok pensil hitamnya menempel di paha, menonjolkan lekuk pinggul dan bokong Nan montok. Begitu masuk Griya, Beliau langsung melepas sepatu hak tinggi, Melangkah telanjang kaki ke Bilik tidur lantai dua.

Beliau Tak menyalakan lampu Primer. Hanya lampu tidur kuning temaram di samping ranjang king-size Nan menyala. Larasati berdiri di Ambang cermin Akbar, menatap bayangannya sendiri. Napasnya mulai berat. telah Nyaris setahun Beliau Tak disentuh pria. Malam-malam kesepian ini makin sering Membikin tangannya merayap ke bawah Lancingan dalam. Tapi malam ini berbeda. Eksis sesuatu Nan mengganggu pikirannya sejak sore.

Pagi tadi, disaat Beliau sedang meeting di kantor, tetangga sebelah—Rendra, pria 38 tahun, duda tak memakai anak, mantan tentara Nan kini mempunyai bisnis Bangunan Mini-kecilan—mampir ke rumahnya Buat mengembalikan kunci cadangan pagar belakang Nan dipinjam Pekan Lampau. Rendra tinggi Akbar, bahu lebar, lengan berotot tebal penuh urat, kulit sawo matang gelap dikarenakan sering terpapar Mentari proyek. Rambut Pendek pendek, rahang tegas, mata tajam Nan selalu menatap terlalu Lambat. disaat menyerahkan kunci, jari-jarinya sengaja menyentuh telapak tangan Larasati lebih Lambat dari Nan Semestinya. Larasati merasakan getaran listrik Mini di perutnya. Rendra tersenyum tipis, suaranya dalam dan serak.

“Malam ini hujan deras, Mbak Laras. Kalau takut sendirian, telepon saja. Dubur selalu terbuka Lakukan saya.”

Larasati hanya tersenyum kaku, tapi setelah Rendra kesana, Beliau merasakan Lancingan dalamnya mulai lembab.

Sekarang, di Bilik tidur, Larasati melepas blus basahnya. Bra hitam renda dilepas, payudaranya Nan Akbar terbebas, pentil telah mengeras dikarenakan udara dingin AC. Beliau menatap cermin, tangan kanannya meremas buah dadad kirinya pelan, jempol menggosok pentil Tiba Beliau mendesah Mini. Tangan kirinya merayap ke bawah rok, menyusup ke dalam Lancingan dalam hitam tipis. Jari tengahnya langsung menemukan klitoris Nan telah bengkak, licin oleh cairan Nan mengalir deras.

“Ya Tuhan… kenapa malam ini begini sekali…” gumamnya sendiri.

Tiba-tiba bel Griya berbunyi. Larasati tersentak. Jam telah menunjukkan pukul 23:17. Siapa Nan datang jam segini?

Beliau buru-buru mengenakan kimono satin hitam pendek Nan Nyaris Tak menutupi apa-apa, turun ke bawah bersama jantung berdegup kencang. Melalui kamera pintu Ambang, Beliau Memandang Rendra berdiri di teras, baju kaus hitam basah kuyup menempel di dada bidang dan perut six-pack-nya. Lancingan jeans gelapnya juga basah. Wajahnya serius, tapi matanya… matanya lapar.

Larasati membuka pintu sedikit saja.

“Mas Rendra? Eksis apa malam-malam begini?”

“Hujan deras, listrik di Griya saya Wafat. Generator rusak. Boleh numpang Sejenak? Saya bawa kopi panas Baju roti dari minimarket.”

Larasati ragu. Tapi tubuhnya telah berkhianat—putingnya mengeras lagi di balik satin tipis, memeknya berdenyut Memandang tubuh basah pria itu.

“A… ya telah, masuk saja. Tapi Sejenak ya.”

Rendra masuk, aroma keringat pria bercampur hujan dan parfum kayu langsung memenuhi ruangan. Larasati menutup pintu, mengunci. Mereka berdiri di ruang tamu gelap, hanya diterangi lampu taman dari luar.

Rendra meletakkan tas kresek di meja, Lampau menatap Larasati dari atas ke bawah. Kimono satin itu terlalu pendek, celah depannya terbuka sedikit memperlihatkan belahan buah dadad dan garis perut rata.

“Mbak Laras… Anda Ayu sekali malam ini,” suaranya rendah, Nyaris seperti growl.

Larasati menunduk, pipinya panas. “Mas… jangan ngomong gitu.”

Rendra melangkah mendekat. Jarak mereka tinggal Separuh meter. Larasati Memperoleh merasakan panas tubuh pria itu.

“Kenapa? Takut?”

Larasati menggeleng pelan, tapi matanya Tak Memperoleh lepas dari dada bidang Nan naik turun itu.

Rendra mengangkat tangan, jari telunjuknya menyentuh dagu Larasati, mengangkat wajahnya.

“telah Lambat ya, Mbak? Sendirian di Griya Akbar begini.”

Larasati menelan ludah. “Mas… saya—”

Belum selesai berkata, Rendra menariknya kasar ke pelukannya. mulutnya langsung menempel di mulut Larasati, ciuman ganas, lidahnya memaksa masuk, menjelajah mulut wanita itu. Larasati mengerang tertahan, tangannya mendorong dada Rendra tapi lemah sekali. Rendra malah menggigit mulut bawah Larasati Tiba sedikit berdarah, Lampau menjilatnya.

“Jangan Dusta. Saya tahu Anda basah dari tadi,” bisik Rendra di telinga Larasati.

Tangan kanannya merayap ke bawah kimono, langsung meremas bokong montok itu keras. Jari-jarinya menyusup ke celah pantat, menemukan Lancingan dalam Nan telah basah kuyup.

“Ya Maaf… banjir begini. Anda memang jalang Nan Dahaga kontol ya?”

Larasati menggeleng, tapi desahannya malah makin keras disaat jari Rendra menyusup ke dalam Lancingan dalam, langsung menemukan lubang memek Nan licin dan panas.

“Aaahh… Mas… jangan…”

“Jangan apa? Jangan masukin jari? Atau jangan bilang kalau memekmu ini telah nganga minta dientot?”

Rendra memasukkan dua jari sekaligus, langsung mengocok Sigap. Bunyi cairan cipratan Mini terdengar di ruangan sunyi. Larasati memeluk leher Rendra erat, kakinya gemetar.

“Bilang, Mbak. Bilang Anda mau kontolku.”

Larasati menangis Mini, Kombinasi malu dan nikmat. “A… Saya mau… Mas… Saya mau kontolmu…”

Rendra tersenyum puas. Beliau menarik jari keluar, menjilat cairan Larasati di Ambang matanya sendiri. Selera Masin manis Membikin matanya makin gelap.

“Turun. Menyerah.”

Larasati gemetar, tapi Taat. Beliau Menyerah di karpet ruang tamu. Rendra membuka resleting Lancingan jeans, menurunkan Lancingan dalam hitamnya. Kontolnya langsung melompat keluar—panjang Sekeliling 18 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala Akbar merah keunguan, telah basah di ujung dikarenakan precum.

Larasati menatapnya bersama mata melebar. telah Lambat sekali Beliau Tak Memandang kontol sungguhan.

“Mulutmu. Buka.”

Larasati membuka mulut, lidahnya keluar sedikit. Rendra memegang rambutnya, menarik kepala Larasati maju. Kontol Akbar itu langsung masuk ke mulut hangat wanita itu. Larasati tersedak, air mata keluar, tapi Rendra Tak berhenti. Beliau mendorong pinggulnya maju-mundur, deepthroat kasar. Bunyi gluk-gluk basah terdengar, air liur Larasati menetes ke dagu dan payudaranya Nan terbuka.

“Bagus… isap lebih dalam, jalang. Tenggorokanmu ini dibuat Lakukan kontolku.”

Larasati mengerang di Sekeliling kontol, tangannya meremas paha Rendra. Rendra menarik keluar, kontolnya basah kuyup air liur, Lampau menampar pipi Larasati pelan bersama batang itu.

“Berdiri. Ke Bilik.”

Larasati bangun bersama kaki gemetar. Rendra mengangkatnya seperti boneka, membawanya naik tangga ke Bilik tidur. Begitu Tiba ranjang, Beliau melempar Larasati ke atas kasur. Kimono langsung disobek, Lancingan dalam ditarik kasar Tiba robek.

Rendra menindih Larasati, mulutnya langsung menggigit pentil kiri, menghisap keras Sembari tangannya meremas buah dadad kanan. Larasati menjerit Mini, punggungnya melengkung.

“Mas… sakit… tapi Lezat…”

Rendra turun ke bawah, membuka paha Larasati lebar-lebar. Memeknya telah merah bengkak, klitoris menonjol, cairan bening mengalir ke anus. Rendra menjilat dari bawah ke atas, lidahnya menari di klitoris, Lampau menusuk masuk ke lubang vagina.

“Aaahhh! Mas… lidahmu… dalam sekali…”

Rendra mengisap klitoris keras, dua jarinya masuk lagi, mengocok G-spot. Larasati menjerit, pinggulnya naik turun sendiri. Dalam hitungan menit, Beliau orgasme pertama—cairan bening menyembur Mini, membasahi Paras Rendra.

“telah squirt sekali. Tetap Awal, Mbak.”

Rendra bangun, memposisikan kontol di Ambang lubang Larasati. Beliau menggesek-gesek dulu, kepala kontol membuka mulut memek Nan licin.

“Masukin pelan ya Mas…”

“Pelan? Nggak Eksis pelan malam ini.”

Rendra mendorong keras sekali. Kontol tebal itu masuk Separuh, Larasati menjerit kesakitan nikmat. Rendra menarik keluar sedikit, Lampau tusuk lagi lebih dalam. Tiba akhirnya seluruh batang masuk, bola-bolanya menempel di pantat Larasati.

“Penuh… kontolmu penuhin Saya… Mas…”

Rendra mulai menggerakkan pinggul, keluar masuk Sigap. Bunyi plok-plok basah memenuhi Bilik, ranjang berderit keras. Larasati memeluk leher Rendra, kuku menancap di punggung pria itu.

“Ngentot Saya lebih keras… hancurkan memekku Mas… Saya budak kontolmu…”

Rendra membalikkan tubuh Larasati, posisi doggy. Beliau menampar bokong montok itu keras Tiba memerah. Lampau masuk lagi dari belakang, lebih dalam. Tangannya meraih rambut Larasati, menarik kepala ke belakang.

“Bilang lagi. Bilang Anda milik kontolku.”

“Saya milik kontolmu Mas… Saya jalangmu… entot Lanjut… jangan berhenti…”

Rendra mempercepat, tangan kirinya meremas buah dadad, jari kanannya memainkan klitoris. Larasati orgasme kedua, kali ini lebih hebat—squirt menyembur deras ke kasur, tubuhnya kejang-kejang.

Rendra Tak berhenti. Beliau menarik keluar, membalik Larasati lagi, mengangkat kaki wanita itu ke bahu. Penetrasi dalam sekali, kepala kontol menyentuh serviks.

“Di dalem ya Mbak… Saya mau keluar di dalem memekmu.”

Larasati mengangguk Sigap, matanya berkaca-kaca nikmat. “Keluarin di dalem Mas… isi Saya penuh sperma…”

Rendra mengerang keras, pinggulnya berhenti di dalam, kontol berdenyut keras. Sperma panas menyembur cukup banyak, memenuhi vagina Larasati Tiba luber keluar, menetes ke anus dan kasur.

Mereka berdua terdiam, napas tersengal. Rendra Tetap di dalam, kontolnya pelan-pelan lembek tapi tetap mengisi. Larasati memeluknya erat, air mata mengalir—bukan sedih, tapi kelegaan dan ketagihan.

“Mas… besok malam… datang lagi ya?”

Rendra tersenyum gelap, mencium kening Larasati.

“Besok malam Saya bawa temenku. Anda siap dilayani dua kontol sekaligus?”

Larasati menelan ludah, memeknya berdenyut lagi hanya membayangkannya.

“Siap… Saya mau semuanya…”

(Tamat Buat malam ini. Tapi cerita mereka baru saja dimulai.)

Malam berikutnya, hujan telah reda, tapi udara Jakarta Tetap lembab dan panas. Larasati berdiri di Ambang cermin Bilik mandi, tubuh telanjangnya Tetap penuh bekas malam sebelumnya: memar Mini keunguan di pinggul kanan dari remasan keras Rendra, bekas gigitan merah di leher dan buah dadad kiri, serta garis-garis merah samar di bokong dari tamparan. Memeknya Tetap sedikit bengkak, mulut vaginanya agak menghitam dikarenakan digesek kasar kontol tebal itu semalaman. Tapi anehnya, setiap Memandang bekas itu, Larasati merasa getaran panas kembali naik di perut bawahnya. Cairan bening telah mulai menetes pelan dari celah memeknya hanya dikarenakan mengingat kata-kata Rendra tadi malam.

“Besok malam Saya bawa temenku. Anda siap dilayani dua kontol sekaligus?”

Larasati menelan ludah berkali-kali sepanjang hari. Di kantor, Beliau Tak Memperoleh Konsentrasi. Setiap duduk, gesekan Lancingan dalam sutra tipis ke klitoris Nan sensitif membuatnya menggigit mulut bawah. Beliau pulang lebih Awal, mandi dua kali, memakai parfum vanila Nan manis, Lampau memilih lingerie hitam renda tipis Nan Nyaris transparan—bra push-up Nan Membikin payudaranya terlihat lebih Akbar dan tinggi, Lancingan dalam G-string Nan hanya menutupi sedikit saja, garter belt hitam bersama stocking tipis. Di atasnya, Beliau pakai kimono satin merah darah Nan pendek, Nyaris Tak menutupi bokong montoknya.

Jam 21:45, bel Griya berbunyi dua kali. Larasati jantungnya berdegup kencang Tiba terasa di tenggorokan. Beliau turun tangga pelan, tumit stiletto hitamnya berdenting tidak kasar di lantai marmer. disaat membuka pintu, Rendra telah berdiri di sana, Tetap bersama kaus hitam ketat dan Lancingan jeans gelap. Di belakangnya Eksis seorang pria lain—lebih Belia, mungkin 30-an akhir, nama Dito. Dito lebih ramping daripada Rendra, tapi tubuhnya atletis, kulit sawo matang terawat, rambut agak panjang bergelombang, mata sipit tajam, dan senyum miring Nan penuh godaan. Beliau mantan rekan bisnis Rendra, sekarang mempunyai gym Mini di Kemang juga.

“Mbak Laras… ini Dito. Temen Nan Saya bilang kemarin.”

Larasati menunduk malu, tapi matanya melirik ke selangkangan keduanya. telah Eksis tonjolan Jernih di Lancingan jeans mereka berdua.

“Masuk… Mas,” suaranya pelan, Nyaris bergetar.

Mereka masuk, Rendra langsung mengunci dubur dan Ambang. Dito menatap Larasati dari atas ke bawah, lidahnya menjilat mulut bawah pelan.

“Wah… lebih Ayu dari foto Nan Mas Rendra tunjukin. Bokongnya bikin pengen langsung tampar dari belakang.”

Larasati tersipu, tapi memeknya langsung berdenyut mendengar kata-kata kasar itu. Rendra mendekat dari belakang, tangannya langsung merangkul pinggang Larasati, menarik tubuhnya Tiba bokong montok itu menempel di tonjolan kontol Rendra Nan telah keras.

“Anda telah basah belum, jalang?” bisik Rendra di telinga Larasati Sembari menggigit cuping telinganya.

Larasati mengangguk Mini. “telah… dari tadi siang mikirin ini…”

Dito tertawa pelan, melepas kausnya. Dadanya bidang, perut six-pack terlihat Jernih, Eksis tato Mini tribal di bahu kiri. Beliau mendekat dari Ambang, tangannya langsung meremas buah dadad Larasati dari luar kimono.

“Payudaranya gede banget. Niscaya Lezat digigit.”

Rendra menarik kimono Larasati Tiba Anjlok ke lantai. Sekarang Larasati hanya pakai lingerie hitam dan stocking. Dua pria itu menatapnya seperti serigala lapar.

“Ke sofa dulu. Biar kita main pelan-pelan,” kata Rendra.

Mereka membawa Larasati ke sofa panjang di ruang tamu. Rendra duduk di tengah, menarik Larasati duduk di pangkuannya menghadap ke Ambang. Kaki Larasati dibuka lebar oleh Dengkul Rendra, memamerkan memek Nan telah basah di balik G-string tipis. Dito Menyerah di Ambang, tangannya merayap ke paha Larasati, menarik G-string ke samping.

“Memeknya merah banget… Tetap bengkak dari semalem ya?” Dito menjilat mulutnya.

Jari tengah Dito menyentuh klitoris Larasati, menggosok pelan dulu, Lampau Sigap. Larasati mengerang, kepalanya Anjlok ke bahu Rendra. Rendra meremas kedua buah dadad dari belakang, mencubit pentil keras Tiba Larasati menjerit Mini.

“Desah lebih kencang, jalang. Biar tetangga denger Anda lagi dientot dua pria.”

Dito menunduk, lidahnya langsung menjilat memek Larasati dari bawah ke atas. Selera Masin manis cairan membuatnya mengerang. Beliau menusuk lidah ke dalam lubang vagina, mengocok seperti kontol Mini, Sembari jempolnya memijat klitoris. Larasati menggeliat, pinggulnya maju-mundur sendiri.

“Aaahh… Mas Dito… lidahmu… Lezat sekali…”

Rendra menarik rambut Larasati ke belakang, menciumnya ganas, lidahnya menari di mulut wanita itu. Tangan kanannya turun, ikut memasukkan dua jari ke memek Larasati Seiring lidah Dito. Bunyi cipratan basah terdengar Jernih, bau aroma memek basah memenuhi ruangan.

Dalam lima menit, Larasati telah orgasme pertama malam itu. Cairan bening menyembur ke Paras Dito, tubuhnya kejang, kakinya gemetar hebat.

“telah squirt sekali. Tetap Lambat nih,” kata Dito Sembari menjilat mulutnya.

Rendra mengangkat Larasati, membawanya ke lantai karpet tebal. Beliau berbaring telentang, menarik Larasati naik ke atasnya. Kontol Rendra telah keluar dari Lancingan, Akbar dan keras, urat-uratnya menonjol. Larasati diposisikan menghadap Rendra, memeknya Pas di atas kontol itu.

“Masukin sendiri, jalang. Tunjukin seberapa Dahaga Anda Baju kontol.”

Larasati memegang kontol Rendra, mengarahkan ke lubang vaginanya Nan licin. Beliau turun pelan, merasakan kepala Akbar itu membuka mulut memeknya lagi. “Aaaahhh… gede banget… penuh lagi…”

Tiba Asas, Larasati mengerang panjang. Rendra memegang pinggulnya, mulai menggerakkan dari bawah, naik turun Sigap. Plok-plok basah terdengar ritmis.

Dito berdiri di Ambang Paras Larasati, membuka celananya. Kontolnya keluar—sedikit lebih pendek dari Rendra, Sekeliling 17 cm, tapi lebih tebal di bagian tengah, kepalanya Akbar seperti jamur. Beliau memegang rambut Larasati, menarik kepalanya maju.

“Buka mulut. Isap kontolku Sembari dientot Mas Rendra.”

Larasati membuka mulut lebar. Kontol Dito masuk dalam, langsung deepthroat. Larasati tersedak, air mata keluar, tapi Beliau Lanjut mengisap, lidahnya berputar di kepala kontol. Bunyi gluk-gluk basah bercampur bersama plok-plok dari bawah.

Rendra menampar bokong Larasati keras. “Mobilitas pinggulmu lebih Sigap. Ngewe sendiri di atas kontolku, jalang.”

Larasati mengangguk, pinggulnya naik turun lebih ganas. Payudaranya bergoyang liar, pentil mengeras. Dito menarik kontolnya keluar, menampar pipi Larasati bersama batang basah air liur.

“mengganti posisi. Saya mau dari belakang.”

Mereka mengubah posisi. Larasati doggy style di karpet, Rendra di Ambang, kontolnya kembali masuk ke mulut Larasati. Dito di belakang, menggesek kontol tebalnya di celah pantat Larasati dulu, Lampau mendorong ke memek Nan telah penuh cairan.

“Memeknya licin banget… Lezat dipake bareng.”

Dito masuk pelan dulu, tapi begitu Separuh masuk, Beliau tusuk keras Tiba Asas. Larasati menjerit di Sekeliling kontol Rendra, tubuhnya maju dikarenakan dorongan itu.

Dua kontol sekaligus—Esa di mulut, Esa di memek. Rendra dan Dito bergantian ritme, Membikin Larasati seperti boneka Nan dimainkan. Orgasme kedua datang Sigap, memeknya berdenyut kuat, squirt lagi menyembur ke paha Dito.

“Mas… Saya nggak kuat… terlalu Lezat…”

Dito menarik keluar, kontolnya basah kuyup. “Mau coba dua sekaligus di memek?”

Larasati menggeleng takut, tapi matanya penuh nafsu. “Saya… mau coba… tapi pelan ya…”

Rendra berbaring lagi, Larasati naik di atasnya, memeknya menelan kontol Rendra penuh. Dito di belakang, mengoleskan ludahnya ke kontol sendiri, Lampau mendorong pelan ke lubang Nan Baju. Larasati menjerit kesakitan nikmat disaat kepala kontol Dito masuk, memaksa memeknya melebar lebih dari Normal.

“Aaaahhh! Sakit… tapi… Lezat… penuh sekali… dua kontol di memekku…”

Mereka Beralih pelan dulu, Lampau makin Sigap. Bunyi plok-plok basah bercampur jeritan Larasati. Payudaranya diremas keras oleh Rendra, pentil digigit Dito dari samping.

Orgasme ketiga datang seperti badai—Larasati squirt deras, tubuhnya kejang hebat, memeknya menjepit dua kontol itu kuat sekali. Rendra mengerang duluan.

“Saya keluar… di dalem!”

Sperma panas Rendra menyembur cukup banyak, memenuhi memek Larasati. Dito ikut, kontolnya berdenyut, menyemprotkan sperma kedua di dalam lubang Nan Baju. Cairan putih kental luber keluar, menetes ke paha Larasati, ke karpet.

Mereka bertiga ambruk. Larasati terbaring di antara dua pria itu, napas tersengal, tubuh penuh keringat dan sperma. Memeknya merah bengkak, sperma Tetap menetes pelan dari celah vaginanya.

Rendra mencium kening Larasati. “Besok malam lagi?”

Dito tersenyum, jarinya mengoles sperma di mulut Larasati. “Atau malam ini lanjut ronde dua? Tetap Eksis temenku Nan lain nunggu Info.”

Larasati menatap mereka berdua, matanya berkaca-kaca tapi penuh hasrat.

“Saya… nggak Memperoleh berhenti sekarang. mengajak temenmu lagi… Saya mau lebih cukup banyak…”

Malam itu baru permulaan. Larasati tahu, tubuh dan jiwanya telah direnggut sepenuhnya—dan Beliau rela.

Tiga hari setelah malam Seiring Rendra dan Dito, Larasati telah Tak lagi Baju. Tubuhnya seperti terbakar dari dalam. Setiap pagi bangun, tangannya otomatis merayap ke antara paha, menggosok klitoris Nan Tetap sensitif Sembari mengingat Selera dua kontol sekaligus mengisi memeknya Tiba luber sperma. Di kantor, Beliau sering ke toilet hanya Buat menyentuh diri sendiri, membayangkan Bunyi plok-plok basah dan desahan kasar pria-pria itu. Beliau tahu ini salah, tapi ketagihan itu lebih kuat dari Selera malu atau takut.

Malam Kamis, jam 22:30, ponsel Larasati bergetar. Pesan dari Rendra.

“Malam ini rumahmu. Bawa dua temen lagi. Siap-siap pakai Nan paling murah dan paling Bandel. Kita main lebih liar. Jangan pakai Lancingan dalam.”

Larasati membaca pesan itu tiga kali. Jantungnya berdegup kencang, memeknya langsung basah hanya dari membayangkan “lebih liar”. Beliau mandi Sigap, memakai body lotion vanila Nan harum, Lampau memilih set lingerie paling vulgar Nan Beliau mempunyai: bra hitam renda terbuka di bagian pentil, Lancingan dalam crotchless hitam Nan membiarkan memek dan anus terbuka lebar, garter belt merah bersama stocking fishnet, dan high heels merah 12 cm. Di atasnya hanya jubah satin hitam tipis Nan Nyaris tembus pandang. Rambutnya dibiarkan tergerai, mulut dipulas merah darah.

Jam 23:15, Bunyi mobil berhenti di Ambang Griya. Larasati membuka pintu tak memakai menyalakan lampu teras. Rendra masuk duluan, diikuti Dito, Lampau dua pria baru Nan belum pernah Larasati lihat.

Nan pertama: Bayu, 35 tahun, mantan polisi Lampau lintas Nan sekarang kerja security di mall mewah. Tubuhnya paling Akbar di antara mereka—tinggi 190 cm, berotot tebal seperti binaragawan, lengan sebesar paha Larasati, perut six-pack tapi agak berlemak di bagian bawah. Kulitnya gelap legam, Eksis bekas luka sayatan di dada kiri. Kontolnya nanti terbukti paling panjang—Sekeliling 20 cm, lurus dan tebal seperti botol air mineral.

Nan kedua: Arga, 29 tahun, tattoo artist Nan sering nongkrong bareng Rendra. Badannya ramping tapi berotot kering, penuh tato tribal dan tulisan Jepang dari leher Tiba pergelangan kaki. Rambutnya dicat platinum, piercing di lidah dan pentil. Matanya liar, senyumnya penuh gigi tajam.

“Mbak Laras… malam ini Anda bakal diobrak-abrik Tiba pagi,” kata Rendra Sembari menutup pintu dan mengunci Seluruh.

Larasati berdiri di tengah ruang tamu, jubah satinnya telah dilepas oleh Dito dari belakang. Tubuhnya sekarang terpampang Jernih di bawah lampu temaram: buah dadad Akbar terbuka, pentil mengeras dikarenakan udara dingin dan tatapan empat pria, memek terbuka lebar di balik crotchless, cairan bening telah menetes pelan ke paha dalam.

Bayu mendekat pertama, tangannya Akbar meremas bokong Larasati keras Tiba dagingnya memutih di antara jari. “Bokongnya empuk banget. Niscaya Lezat ditampar.”

Arga langsung ke Ambang, lidahnya Nan berpiercing menjilat pentil kiri Larasati, memutar-mutar piercing di lidahnya di Sekeliling pentil Tiba Larasati mengerang keras.

“Desahannya manja banget. Saya suka Nan begini,” gumam Arga.

Rendra dan Dito telah melepas baju. Empat kontol keras berdiri tegak, siap. Mereka membawa Larasati ke ruang makan—meja kayu jati panjang Nan Normal dipakai makan malam sekarang akan jadi panggung.

Bayu mengangkat Larasati seperti boneka, meletakkannya telentang di tengah meja. Kaki dibuka lebar, diikat ke kaki meja menggunakan tali sutra merah Nan dibawa Rendra. Tangan Larasati diikat ke atas kepala bersama ikatan Nan Baju. Posisi terbuka total, memek dan anus terpampang Jernih.

“Malam ini kita main tak memakai Maaf. Anda Hanya lubang Lakukan kami,” kata Rendra Sembari menampar memek Larasati pelan tapi cukup keras Tiba cipratan Mini terdengar.

Larasati menggeleng, tapi matanya penuh nafsu. “Saya… siap… hancurkan Saya…”

Arga naik ke meja, Menyerah di atas dada Larasati, kontolnya Nan bertato Mini di pangkal langsung dimasukkan ke mulut wanita itu. Piercing di lidah Arga berganti ke kontolnya—Eksis barbell Mini di kepala kontol. Larasati merasakan logam dingin di lidahnya disaat mengisap dalam-dalam.

Bayu di bawah, kontol panjangnya menggesek lubang memek Larasati dulu, Lampau mendorong pelan. Kepala Akbar itu membuka mulut vagina lebar-lebar, Larasati menjerit di Sekeliling kontol Arga.

“Penuh… kontolnya panjang sekali… nyentuh rahim…”

Bayu mulai menggerakkan pinggul, keluar masuk dalam ritme lambat tapi dalam sekali. Setiap tusukan, kepala kontol menyentuh serviks, Membikin Larasati kejang nikmat.

Rendra dan Dito Tak tinggal Tenang. Rendra mengambil lilin aromaterapi dari meja samping, menyalakan, Lampau meneteskan lilin panas ke buah dadad Larasati. Tetesan lilin merah mendarat di pentil, mengeras seketika. Larasati menjerit kesakitan nikmat, tubuhnya melengkung.

“Panasss… Mas… lagi…”

Dito mengambil vibrator Mini Nan dibawa dari tasnya—Instrumen improvisasi dari remot mobil Nan bergetar kuat. Beliau tempelkan ke klitoris Larasati Sembari Bayu Lanjut mengentot dalam.

Getaran kuat bercampur tusukan dalam Membikin Larasati orgasme pertama dalam hitungan menit. Squirt menyembur deras, membasahi perut Bayu dan meja kayu.

“telah squirt. mengganti posisi,” kata Rendra.

Mereka melepaskan ikatan, membalik Larasati jadi doggy di atas meja. Bayu masuk lagi dari belakang ke memek, kali ini lebih kasar. Arga di Ambang, kontolnya kembali ke mulut. Rendra dan Dito di samping, bergantian menampar bokong dan meremas buah dadad.

Tiba-tiba Arga menarik keluar dari mulut, berpindah ke belakang. Beliau mengoleskan ludah ke anus Larasati Nan telah licin oleh cairan memek Nan meluber.

“Mau coba double di belakang?”

Larasati menggeleng takut, tapi suaranya memohon. “Pelan ya Mas… Saya belum pernah dua di anus…”

Arga mendorong pelan, kepala kontolnya masuk ke lubang belakang Nan sempit. Larasati menjerit, air mata keluar, tapi Bayu Lanjut mengentot memek dari bawah, Membikin sensasi penuh ganda. Arga masuk Separuh, Lampau tusuk lebih dalam. Dua kontol sekarang mengisi dua lubang belakang—memek dan anus.

“Ya Tuhan… penuh sekali… Saya robek…”

Rendra naik ke meja, kontolnya masuk ke mulut Larasati lagi. Sekarang tiga lubang terisi sekaligus: mulut, memek, anus. Dito hanya Memperoleh meremas buah dadad dan mencubit pentil Sembari menunggu giliran.

Gerakan mereka makin liar. Bunyi plok-plok basah, jeritan tertahan Larasati, desahan pria-pria itu memenuhi ruangan. Bau keringat, sperma, aroma memek basah, dan lilin meleleh bercampur jadi Esa.

Larasati orgasme kedua dan ketiga berturut-turut—squirt menyembur ke paha Bayu, tubuhnya kejang hebat, anus dan memek menjepit kontol kuat sekali.

Bayu keluar duluan, menarik kontol dari memek, menyemprotkan sperma panas ke punggung Larasati. Arga ikut, keluar di dalam anus, sperma kental meluber keluar dari lubang belakang.

Rendra menarik Larasati dari meja, membawanya ke lantai. Beliau berbaring, Larasati naik di atas, memeknya menelan kontol Rendra lagi. Dito masuk dari belakang ke anus Nan telah licin sperma.

Double penetration lagi, kali ini lebih ganas. Larasati naik turun sendiri, payudaranya bergoyang liar, tangannya meremas dada Rendra.

“Saya jalang kalian… entot Lanjut… isi Saya penuh sperma…”

Dito dan Rendra keluar Nyaris bersamaan—sperma panas menyembur di dalam memek dan anus, luber keluar, menetes ke lantai.

Mereka berlima ambruk di lantai. Larasati terbaring di tengah, tubuh penuh sperma, lilin mengeras di buah dadad, memek dan anus merah bengkak, cairan putih menetes dari kedua lubang.

Rendra membelai rambut Larasati Nan basah keringat. “Besok malam kita ke villa di Puncak. Bawa temen lebih cukup banyak. Anda siap jadi mainan kami semalaman?”

Larasati tersenyum lemah, matanya berkaca-kaca tapi penuh api.

“Saya siap… mengajak siapa saja… Saya mau lebih cukup banyak kontol… Saya mau dihancurkan Tiba nggak Memperoleh jalan…”

Malam itu berakhir bersama Larasati tertidur di antara empat pria, tubuhnya Tetap bergetar pelan dikarenakan after-orgasme. Tapi di dalam hatinya, Beliau tahu: ini baru Awal dari kegelapan Nan lebih dalam.

Puncak, Bogor, Jumat malam. Udara dingin pegunungan menusuk tulang, tapi di dalam Villa Mahkota Nan tersembunyi di lereng Gunung Salak, suhu tubuh Larasati telah mendidih sejak sore. Rendra mengantarnya bersama mobil mewah hitam, tangannya sesekali meremas paha Larasati dari balik rok pendek Nan sengaja dipakai tak memakai Lancingan dalam. Di kursi belakang, Dito, Bayu, Arga, dan dua pria baru telah menunggu bersama senyum lapar.

Nan pertama bernama Viko, 34 tahun, pemilik klub malam di Jakarta. Tubuhnya kekar seperti petinju, kulit hitam legam, lengan penuh urat, dan kontolnya Nan nanti terbukti paling tebal—seperti pergelangan tangan Larasati. Nan kedua, Saka, 28 tahun, Instruktur tinju profesional. Badannya ramping berotot, perut eight-pack, dan tangannya kasar penuh kapalan Nan Larasati tahu akan meninggalkan memar Bagus di kulitnya.

Enam pria. Esa wanita. Malam ini villa seluas 800 meter persegi ini akan jadi Loka Larasati benar-benar dihancurkan.

Begitu masuk pintu Primer, Rendra langsung menutup Seluruh gorden dan mengunci gerbang. Lampu Primer dimatikan, hanya lampu merah temaram di ruang bawah tanah Nan menyala. Ruangan itu telah disiapkan: Loka tidur besi Akbar bersama rantai dan tali kulit, palang salib kayu di tengah, meja kayu bersama lilin hitam, cambuk kulit, penjepit pentil, ball gag, blindfold, dan vibrator raksasa Nan bergetar kuat.

Larasati berdiri di tengah, tubuhnya gemetar Kombinasi takut dan nafsu. Beliau hanya memakai mantel panjang hitam Nan langsung dicabut Bayu kasar. Tubuh telanjangnya terpampang: buah dadad Akbar menggantung berat, pentil cokelat Belia telah mengeras dikarenakan dingin, memek licin mengkilap, anus Tetap sedikit merah bekas malam sebelumnya.

“Malam ini Anda bukan Larasati lagi,” kata Rendra Sembari memasang kalung anjing kulit hitam di leher Larasati. “Anda Ialah budak kontol kami. Namamu Jalang.”

Larasati mengangguk, suaranya bergetar. “Iya, Tuan… Saya Jalang kalian.”

Viko dan Saka tertawa pelan. Mereka langsung mengikat Larasati ke palang salib kayu: tangan diangkat tinggi, kaki dibuka lebar dan diikat di bawah. Tubuhnya terentang sempurna, buah dadad terdorong maju, memek terbuka lebar tak memakai perlindungan.

Rendra menyalakan lilin hitam. Tetesan lilin panas pertama mendarat Pas di pentil kiri Larasati. Beliau menjerit keras, tubuh melengkung. Tetesan kedua, ketiga, keempat—di pentil kanan, perut, paha dalam. Selera panas membakar berubah jadi nikmat menyiksa.

“Bilang terima kasih, Jalang,” perintah Arga Sembari mencambuk pelan paha Larasati bersama cambuk kulit Mini.

“Terima kasih, Tuan… lagi… bakar Jalangmu…”

Bayu memasang penjepit pentil berantai berat. pentil Larasati langsung terjepit kuat, Selera sakit menusuk Tiba ke memeknya Nan berdenyut. Rantai dihubungkan ke klitoris bersama penjepit Mini ketiga. Setiap gerakan Mini tubuh Larasati menarik rantai itu, Membikin klitoris dan putingnya ditarik bersamaan.

Dito memasang blindfold hitam di mata Larasati. Bumi jadi gelap. Hanya Bunyi napas enam pria dan derit rantai Nan terdengar.

“Mulai,” kata Rendra.

Bayu Nan pertama. Kontol panjangnya langsung masuk ke memek Larasati Nan telah banjir. Tusukan dalam sekali, Tiba bola kontolnya menampar anus. Larasati menjerit, tubuhnya tersentak, rantai penjepit menarik pentil dan klitorisnya.

“Penuh… kontolnya nyentuh rahim… Tuan…”

Viko masuk ke mulut. Kontol tebalnya memaksa rahang Larasati melebar maksimal. Deepthroat kasar, air liur menetes deras ke buah dadad. Saka di belakang, lidahnya menjilat anus Larasati dulu, Lampau kontolnya mendorong masuk pelan ke lubang belakang Nan Tetap sempit.

Dua kontol di bawah, Esa di mulut. Larasati telah orgasme pertama dalam dua menit—squirt menyembur deras ke lantai semen, tubuhnya kejang hebat, rantai penjepit bergetar.

“Jalang ini squirt hanya dari tiga kontol,” ejek Dito Sembari menampar pipi Larasati pelan.

Mereka bergantian. Arga mengganti Bayu di memek, mengentot ganas Sembari menarik rantai penjepit klitoris. Rendra mengambil cambuk Akbar, mencambuk bokong Larasati bergantian—plak! plak! plak!—Tiba kulit putihnya memerah terang bersama garis-garis merah.

“Lebih keras, Tuan… hancurkan pantat Jalangmu!” jerit Larasati di sela isapan kontol Viko.

Choking dimulai. Rendra memegang leher Larasati dari Ambang, jari-jarinya menekan pelan tapi kuat disaat Saka mengentot anus dari belakang. Larasati merasa pusing nikmat, napasnya tersengal, memeknya berdenyut lebih kuat.

Posisi berubah. Larasati dilepaskan dari palang, dibawa ke Loka tidur besi. Tangan dan kaki diikat ke empat tiang ranjang—posisi spread eagle. Blindfold tetap dipakai.

Enam pria mengelilinginya. Mereka bergantian masuk ke memek dan anus secara bergiliran. Kadang dua kontol sekaligus di memek, kadang Esa di memek Esa di anus, kadang tiga lubang terisi bersamaan—mulut, memek, anus.

Viko Nan paling brutal. Beliau mengangkat pinggul Larasati tinggi, kontol tebalnya menghantam G-spot lagi dan lagi kali Tiba Larasati squirt berturut-turut tiga kali. Cairan bening menyembur seperti air mancur, membasahi perut Viko dan seprai.

Saka memakai vibrator raksasa di klitoris Sembari Rendra mengentot mulut. Getaran kuat itu Membikin Larasati menjerit tak memakai Bunyi dikarenakan mulut penuh kontol.

“Bilang Anda milik kontol kami Seluruh!” perintah Rendra Sembari mencabut kontolnya Sejenak.

“Saya milik kontol kalian Seluruh… Jalang kalian… isi Saya… hancurkan Saya… Saya nggak mau berhenti selamanya!”

Orgasme keenam datang disaat Bayu dan Arga memasukkan kontol mereka bersamaan ke memek Larasati. Memeknya melebar luar Normal, Selera penuh sakit nikmat membuatnya kejang hebat. Squirt terbesar malam itu menyembur, membasahi dada Bayu.

Esa per Esa mereka keluar. Rendra duluan di dalam memek, sperma panas memenuhi Tiba luber. Viko di anus, Saka di mulut—Larasati menelan sebanyak mungkin tapi sebagian menetes ke dagu dan buah dadad. Dito, Bayu, dan Arga menyemprotkan Residu sperma ke Paras, buah dadad, dan perut Larasati. Bukkake Komplit. Paras Larasati tertutup lapisan putih kental, rambut basah, tubuh lengket.

Rantai penjepit dilepas pelan. Selera darah mengalir kembali ke pentil dan klitoris Membikin Larasati orgasme Mini lagi meski tak memakai sentuhan.

Mereka melepaskan ikatan. Larasati ambruk lemas di tengah ranjang, napas tersengal, tubuh penuh sperma, memar, bekas cambuk, dan lilin mengeras. Memek dan anusnya merah bengkak terbuka, sperma Tetap menetes pelan dari kedua lubang.

Rendra membelai rambut Larasati Nan lengket, mencium keningnya tidak kasar.

“Besok pagi kita pulang. Tapi Pekan Ambang… Eksis pesta Akbar di sini. Dua puluh pria. Seluruh temen bisnis kami. Anda siap jadi ratu budak di pesta itu?”

Larasati membuka mata pelan, mulutnya Nan bengkak tersenyum lemah tapi penuh hasrat.

“Saya siap, Tuan… mengajak dua puluh… atau lebih… Saya mau diisi Tiba penuh… Saya telah nggak Memperoleh Hayati tak memakai ini…”

Beliau tertidur di antara enam pria Nan Tetap mengelus tubuhnya pelan. Di luar villa, angin pegunungan berhembus dingin, tapi di dalam, api dalam diri Larasati baru saja menyala makin Akbar.

Sabtu malam dua Pekan kemudian, villa di Puncak itu telah berubah total. Lampu merah neon dipasang di seluruh ruangan bawah tanah, musik deep bass techno bergema pelan tapi menggetarkan Tembok. Udara dingin pegunungan bercampur bau keringat pria, parfum mahal, sperma Masin, dan aroma memek basah Nan telah memenuhi ruangan sejak sore.

Larasati tiba lebih dulu, dikawal Rendra dan Bayu. Beliau telah Tak lagi pakai Sandang Normal. Malam ini Beliau Ialah pusat pesta: tubuh telanjang hanya ditutupi harness kulit hitam Nan menjepit buah dadad besarnya dari bawah, membuatnya terdorong maju seperti persembahan. Putingnya dijepit cincin logam berat bersama rantai tipis Nan terhubung ke klitoris. Di leher Eksis kalung anjing Akbar bertuliskan “JALANG MILIK Seluruh”. Pantatnya dipasang butt plug berukuran sedang bersama ekor rubah putih panjang Nan bergoyang setiap langkah. Kakinya dibalut stoking fishnet hitam dan sepatu hak 15 cm merah darah.

Rendra membawanya ke tengah ruangan bawah tanah Nan luas. Di sana telah Eksis lingkaran Akbar dari karpet merah tebal, dikelilingi 20 pria Nan berdiri menunggu. Seluruh telah telanjang atau hanya pakai Lancingan dalam, kontol mereka telah Separuh keras atau penuh tegak. Eksis Nan berotot tebal seperti binaragawan, Eksis Nan ramping bertato, Eksis Nan Uzur berumur 50-an bersama kontol tebal berurat, Eksis Nan Belia berusia 25-an bersama kontol panjang melengkung. Seluruh mata tertuju pada Larasati.

“Malam ini,” Bunyi Rendra bergema lewat mikrofon Mini, “Jalang kalian siap dilayani. Tak Eksis batas. Tak Eksis kata berhenti kecuali Beliau bilang ‘merah’. Tapi Saya tahu Beliau nggak akan bilang itu.”

Larasati berdiri di tengah lingkaran, tubuh gemetar. Memeknya telah banjir sejak di mobil tadi, cairan bening menetes pelan ke paha dalam. Beliau menunduk malu, tapi matanya berkeliling—menghitung kontol Nan akan mengisi tubuhnya malam ini.

Pesta dimulai tak memakai basa-basi.

Dua pria pertama—Bayu dan Viko—mengangkat Larasati ke meja kayu bundar di tengah. Kaki dibuka lebar dan diikat ke tiang besi di samping meja, tangan diikat ke atas kepala. Butt plug dicabut kasar, diganti bersama dildo vibrator raksasa Nan langsung dinyalakan mode tinggi. Getaran kuat itu langsung Membikin pinggul Larasati bergoyang sendiri.

Rendra memasang ball gag Akbar di mulutnya, air liur langsung menetes dari Pandang Perspektif mulut. Blindfold hitam dipasang lagi. Bumi gelap, hanya Bunyi desahan pria, musik bass, dan getaran di memeknya Nan terasa.

Nan pertama masuk: seorang pria bertubuh Akbar bernama Toni, kontolnya pendek tapi sangat tebal seperti kaleng soda. Beliau langsung menusuk memek Larasati tak memakai persiapan lebih lanjut. Larasati menjerit tertahan di balik gag, tubuhnya tersentak keras. Toni mengentot ganas, setiap dorongan Membikin payudaranya bergoyang, rantai penjepit menarik pentil dan klitoris bersamaan.

Dalam 30 Detak, Larasati orgasme pertama malam itu—squirt menyembur deras ke perut Toni, tubuh kejang hebat. Toni Tak berhenti, malah mempercepat Tiba keluar di dalam, sperma panas memenuhi memek Larasati.

Giliran berganti Sigap. Setiap pria mempunyai Masa 2-3 menit Buat memakai salah Esa lubang. Eksis Nan memilih memek, Eksis Nan anus, Eksis Nan mulut setelah gag dilepas Sejenak. lebih dari satu pria langsung double penetration—dua kontol di memek sekaligus, atau Esa di memek Esa di anus. Nan paling ekstrem: tiga kontol sekaligus di memek—kontol tebal, panjang, dan sedang dipaksa masuk Seiring, Membikin mulut vagina Larasati melebar maksimal, merah bengkak, dan robek Mini di pinggir.

Bunyi plok-plok basah, jeritan tertahan, desahan pria, dan cipratan squirt memenuhi ruangan. Larasati orgasme lagi dan lagi—ke-5, ke-10, ke-15—setiap kali squirt makin deras, membasahi karpet merah jadi gelap basah.

Elemen BDSM ditingkatkan. Cambuk kulit panjang digunakan Buat memukul buah dadad dan bokong Larasati disaat Beliau dientot. Setiap tamparan meninggalkan garis merah panjang. Lilin hitam diteteskan ke seluruh tubuh—pentil, perut, paha dalam, bahkan ke klitoris Nan telah bengkak. Selera panas membakar berubah jadi nikmat menyiksa Nan Membikin memeknya berdenyut lebih kuat.

Choking berat dilakukan bergantian. Tangan Akbar pria menekan leher Larasati Tiba wajahnya memerah, napas tersengal, tapi orgasme datang lebih hebat disaat oksigen berkurang. Electro-stim digunakan—Instrumen Mini Nan menyetrum ringan ke pentil dan klitoris, Membikin tubuh Larasati kejang seperti disetrum listrik nikmat.

Puncaknya disaat 10 pria terakhir bergabung dalam “circle fuck”. Larasati dibaringkan telentang di karpet, kaki diangkat tinggi dan dibuka lebar. Esa per Esa pria masuk ke memek atau anus, keluar di dalam atau di luar, meninggalkan sperma di tubuhnya. Nan lain mengocok kontol di atas Paras dan buah dadad, menyemprotkan bukkake massal. Paras Larasati tertutup lapisan sperma tebal, mata tertutup putih, rambut lengket, mulut terbuka menelan sebanyak mungkin.

Sperma menetes dari memek dan anus seperti air terjun Mini, membentuk genangan di karpet. Payudaranya penuh coretan putih, perut rata berlumur, paha dalam licin.

Orgasme terakhir Larasati datang disaat pria ke-20 menyelesaikan—kontol panjang menyentuh serviks dalam, menyemprotkan sperma terakhir di rahim. Tubuh Larasati kejang hebat, squirt terakhir menyembur setinggi 30 cm, Lampau ambruk lemas total. Napasnya tersengal, tubuh bergetar tak terkendali.

Seluruh pria mundur, meninggalkan Larasati terbaring di tengah karpet basah sperma dan cairannya sendiri. Rendra melepas blindfold dan gag pelan.

Larasati membuka mata perlahan. Wajahnya penuh sperma, mulut bengkak, tapi matanya Tetap menyala.

“Tetap… mau lagi?” tanya Rendra Sembari membelai pipinya Nan lengket.

Larasati tersenyum lemah, suaranya serak habis menjerit.

“Saya… nggak pernah cukup… Tapi sekarang… Saya butuh istirahat… besok… atau lusa… mengajak lebih cukup banyak lagi… Saya mau jadi milik Seluruh pria di Jakarta… selamanya…”

Rendra mencium keningnya Nan basah keringat dan sperma.

“Kita lihat seberapa jauh Anda Memperoleh Memperkuat, Jalang.”

Larasati tertidur di genangan sperma itu, dikelilingi 20 pria Nan Tetap menatapnya bersama lapar. Malam itu berakhir, tapi Larasati tahu—ini bukan akhir. Tubuh dan jiwanya telah direnggut sepenuhnya, dan Beliau rela menyerahkan semuanya lagi dan lagi.

TAMAT.

By n9wna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *