Saya bernama Larasati. Umurku 29 tahun. Orang-orang di apartemen ini Normal memanggilku Mbak Laras, terutama anak-anak tetangga Nan sering minta tolong main game di ponselku. Saya tinggal sendirian di unit 12B, lantai 12, sejak dua tahun Lampau suamiku kesana tak memakai pamit—hanya meninggalkan pesan Cepat di meja makan: “Maaf, Saya nggak kuat lagi.”

Tubuhku Tetap Baju seperti dulu Masa Tetap menikah. Tinggi 165 cm, kulit putih susu Nan mudah memerah kalau panas atau malu. buah dadad ukuran 36C, penuh dan kencang, pentil cokelat Belia Nan selalu menonjol kalau Saya pakai bra tipis atau kaus tak memakai bra di Griya. Pinggulku lebar, pantat bulat montok Nan selalu Membikin Lancingan jeans ketat terlihat seperti dipahat Spesifik. Rambut hitam lurus panjang Tiba pinggang, Baju Saya ikat ponytail tinggi Agar Tak gerah. Bibirku tebal alami, selalu kelihatan basah dikarenakan Saya suka menggigit mulut bawah Masa tegang.

Malam itu hujan deras. Jam telah lewat tengah malam. Saya baru pulang dari shift malam di kafe rooftop hotel bintang lima di kawasan SCBD. Seragam hitam ketatnya Tetap melekat di Fisik, rok mini hitam Nan Hanya Tiba pertengahan paha, kemeja putih Nan telah agak basah keringat dan hujan. Saya capek, tapi anehnya Fisik terasa panas. Mungkin dikarenakan semalaman Saya melayani tamu-tamu kaya Nan tatapannya selalu turun ke dada dan paha.

Lift berhenti di lantai 12. Pintu terbuka. Lorong panjang berlampu kuning temaram. Saya melangkah keluar, tumit sepatu hak 7 cm berbunyi klik-klok di lantai marmer. Tas selempangku bergoyang di pinggul.

Tiba-tiba Saya berhenti.

Di Ambang pintu unit 12A—Pas sebelah apartemenku—Eksis seorang pria berdiri menyandar ke Tembok. Tinggi, bahu lebar, kaus hitam ketat membungkus otot dada dan lengan Nan penuh urat. Lancingan jogger arang-arang Lenggang, tapi tonjolan di selangkangannya tetap Jernih terlihat meski kainnya tebal. Tangan kirinya memegang botol bir dingin Nan Tetap mengepul embun, tangan kanan memainkan kunci motor gede Nan tergantung di jari telunjuk.

Beliau menatapku.

Namanya Rama. Tetangga sebelah Nan baru pindah tiga bulan Lampau. Katanya mantan tentara, sekarang kerja freelance sebagai tattoo artist dan kadang jadi bodyguard event malam. Badannya penuh tato tribal hitam pekat dari lengan Tiba leher, Eksis Esa lagi di dada Nan selalu kelihatan kalau kausnya Lenggang. Rambut Pendek pendek, rahang tegas, mata sipit tajam Nan selalu seperti sedang menilai mangsa.

Saya pernah mendengar desas-desus dari Mbak Rina di lantai bawah: “Itu Rama suka main wanita, Mbak. Katanya kontolnya gede banget, bikin wanita nangis minta Maaf.”

Saya Hanya tertawa Mini Masa itu. Tapi sekarang, disaat Beliau menatapku dari ujung kepala Tiba ujung kaki, Saya merasakan sesuatu Nan aneh di antara paha. Hangat. Lembab. Saya buru-buru menunduk, Berjuang lewat Sigap.

“Malam, Mbak Laras,” suaranya dalam, serak dikarenakan bir dan rokok. “Basah banget ya malam ini.”

Saya tersentak. Kata-katanya ambigu. Saya tahu Beliau berkata soal hujan, tapi nada bicaranya… lain.

“I-iya… hujan deras tadi,” jawabku pelan, Bunyi Nyaris Lenyap.

Beliau melangkah mendekat Esa langkah. Bau maskulinnya langsung menerpa hidungku—campuran parfum kayu, keringat segar pria, dan sedikit aroma bir dingin. Jantungku berdegup kencang.

“Seragamnya ketat banget. Niscaya capek ya berdiri seharian Sembari dilupain orang-orang,” katanya lagi, mata turun ke dada. Putingku telah mengeras di balik kemeja tipis. Saya tahu Beliau Memperoleh melihatnya.

Saya menelan ludah. “Saya… mau masuk dulu. Dingin.”

Beliau tersenyum Mini, miring. Gigi putihnya kelihatan. “Masuk aja. Tapi pintu Saya kebuka kok. Kalau Mbak Laras butuh apa-apa… panggil aja.”

Saya buru-buru membuka pintu apartemenku. Begitu masuk, Saya langsung mengunci. Punggungku bersandar ke pintu. Napasku tersengal. Tangan kananku tak memakai sadar turun ke antara paha, menekan rok Nan telah lembap. Lancingan dalamku basah. Bukan dikarenakan hujan.

Malam itu Saya mandi Lambat sekali. Air panas mengguyur tubuh. Saya memejamkan mata, tapi bayangan Rama Lanjut muncul. Tangan besarnya Nan penuh urat, botol bir dingin Nan Beliau pegang tadi, tonjolan tebal di Lancingan jogger-nya. Saya menggigit mulut bawah keras Tiba terasa perih.

Jari tengahku menyelinap ke dalam Lancingan dalam. Memekku telah licin sekali. mulut vagina bengkak, klitoris menonjol sensitif. Saya menggosok pelan Sembari membayangkan Bunyi Rama tadi: “Mbak Laras… basah banget ya malam ini.”

Saya orgasme Mini di Bilik mandi. Lututku lemas. Air mataku ikut Anjlok bercampur air shower. Saya malu. Tapi Saya juga… penasaran.

Dua hari kemudian, Saya pulang lebih malam lagi. Jam 2 pagi. Lift rusak, Saya terpaksa naik tangga dari lantai 7 dikarenakan lift express sedang maintenance. Kakiku pegal, napasku ngos-ngosan.

disaat Tiba lantai 12, Saya Nyaris Anjlok tersungkur dikarenakan kaget.

Rama berdiri di Ambang pintu apartemenku. Kali ini Beliau pakai tank top hitam tak memakai lengan, Lancingan pendek olahraga. Otot lengan dan dada terlihat Jernih. Eksis keringat tipis di lehernya—mungkin baru selesai latihan.

“Mbak Laras kok naik tangga? Lift rusak ya?” tanyanya Rileks, tapi matanya lagi-lagi menelusuri tubuhku dari atas Tiba bawah.

Saya mengangguk lemah. “Iya… capek banget.”

Beliau melangkah mendekat. Kali ini jaraknya Hanya Esa lengan. Saya Memperoleh merasakan panas tubuhnya.

“Masuk dulu ke Loka Saya. Saya mempunyai es batu Baju air dingin. Mbak Laras kelihatan pucet.”

Saya mau menolak. Benar-benar mau. Tapi kakiku malah mengikuti Beliau masuk ke unit 12A.

Pintu ditutup. Kunci berderit.

Ruangan gelap, hanya lampu meja Mini Nan menyala di Pandang Perspektif. Bau tinta tattoo, rokok, dan parfum pria memenuhi udara. Di Tembok Eksis lebih dari satu foto polaroid wanita telanjang bersama tato baru—semuanya pose sensual, Paras memerah, mulut menganga.

Beliau menyerahkan segelas air dingin. Jari kami bersentuhan. Listrik menyambar.

“Makasih…” suaraku bergetar.

Beliau Tak mundur. Malah maju lagi. Dadaku Nyaris menyentuh dadanya.

“Mbak Laras tahu nggak… Saya sering dengar desahan Mbak dari Bilik sebelah,” katanya pelan, Nyaris berbisik. “Malam-malam gini. Mbak suka main sendiri ya?”

Wajahku langsung panas. Saya mau mundur, tapi punggungku telah menempel Tembok.

“A-Saya nggak—”

“Jangan Dusta,” potongnya. Tangan kanannya naik, jempolnya menyentuh mulut bawahku, mengusap pelan. “Saya tahu Mbak Laras kesepian. Saya juga tahu… memek Mbak Niscaya lagi basah sekarang.”

Saya gemetar. Lututku lemas. Saya tahu Saya harus kesana. Tapi badanku Tak mau Beralih.

Beliau menunduk. Hidungnya Nyaris menyentuh leherku. Saya merasakan napas panasnya di kulit.

“Bilang nggak mau… Saya berhenti sekarang juga,” bisiknya. “Tapi kalau Mbak Tenang… Saya anggap itu iya.”

Saya Tenang.

Dan itu Ialah kesalahan terbesarku malam itu.

Saya Tetap Tenang. Napasku pendek-pendek, dada naik turun Sigap. Rama Tak menunggu lagi.

Tangan kanannya langsung meraih rambut ponytailku, menarik kepalaku ke belakang sampai leher terbuka lebar. Mulutnya langsung menempel di leherku—bukan ciuman tidak kasar, tapi gigitan keras disertai hisapan dalam. Saya menjerit Mini, tapi Bunyi itu langsung tertelan di tenggorokan. Selera sakit bercampur nikmat menyambar dari kulit Tiba ke ujung jari kaki.

“telah basah kan, jalang Mini?” bisiknya Pas di telingaku, gigi bawahnya menggesek cuping telingaku. “Saya Memperoleh cium baunya dari sini.”

Beliau benar. Aroma memekku Nan telah banjir mulai tercium samar-samar di udara ruangan Nan pengap. Saya malu sekali, tapi malu itu malah Membikin cairanku makin cukup banyak menetes ke paha dalam.

Tangan kirinya turun kasar, meremas payudaraku dari luar kemeja seragam. Jempol dan telunjuknya mencubit pentil Nan telah keras seperti batu, memelintir pelan tapi kuat. Saya menggelinjang, punggung melengkung menempel Tembok.

“Lepas bajunya,” perintahnya, Bunyi rendah tapi tegas. Bukan permintaan.

Saya gemetar. Tangan sendiri membuka kancing kemeja Esa per Esa. Setiap kancing terlepas, dadaku terbuka lebih lebar. Bra hitam renda tipis Nan Saya pakai malam ini langsung terlihat—pentil cokelat Belia menembus kain tipis itu. Rama menarik napas dalam, matanya gelap.

Beliau menarik bra ke atas tak memakai melepas kait belakang, Membikin buah dadad terloncat keluar. Dingin udara AC langsung menyentuh kulit sensitif. Beliau langsung menunduk, mulutnya menangkap pentil kanan, mengisap keras Sembari lidahnya memutar-mutar. Gigi bawahnya menggigit pelan, menarik pentil Tiba memanjang sebelum dilepas bersama bunyi “pop” basah.

Saya mengerang keras. “Ahh… Mas… sakit…”

“Sakit tapi Lezat kan?” katanya Sembari beralih ke pentil kiri, memperlakukannya Baju kasar. Tangan kanannya turun, menarik rok mini hitamku ke atas Tiba pinggang. Lancingan dalam renda hitam telah basah kuyup di bagian tengah, Eksis noda gelap melingkar Akbar.

Beliau tertawa Mini, serak. “Lihat ini… memeknya banjir sampe netes ke paha. Anda memang jalang Nan Dahaga kontol ya?”

Saya menunduk, Paras memerah. Tapi Saya Tak Memperoleh Dusta lagi. Badanku telah menyerah.

Rama menarik Lancingan dalamku ke bawah bersama Esa tarikan kasar. Kain renda robek sedikit di sisi, tapi Beliau Tak Acuh. Beliau memaksa kakiku membuka lebar bersama lututnya Nan kuat. Jari tengah dan telunjuk kanannya langsung menyusup ke lipatan memekku Nan licin.

“Plok… plok…” Bunyi basah terdengar setiap jarinya mengaduk masuk-keluar. Beliau memasukkan tiga jari sekaligus, melengkung mencari titik sensitif di Tembok Ambang vagina. Begitu menemukannya, Beliau menekan keras Sembari menggosok Sigap.

Saya menjerit. “Aaaahhh! Mas… jangan… terlalu dalam…!”

“Tapi memekmu ngisap jari Saya kayak pengen ditambah lagi,” ejeknya. “Bilang, Laras. Bilang Anda mau kontol Saya sekarang.”

Saya menggeleng lemah, air mata mulai menetes. Tapi pinggulku malah maju-maju mengikuti irama jari-jarinya.

Beliau menarik jari keluar tiba-tiba. Cairanku menetes panjang ke lantai. Beliau mengangkat tangan itu ke Ambang mulutku. “menjilat. Selera memekmu sendiri.”

Saya ragu. Tapi Beliau menekan jari ke bibirku. Saya membuka mulut, lidah menjilat cairan bening Masin-manis itu. Selera maluku makin menjadi, tapi juga makin basah.

Rama mundur Separuh langkah. Beliau menarik tank top-nya lepas, memperlihatkan dada bidang penuh tato hitam dan otot Nan berkeringat tipis. Lampau Lancingan pendek olahraganya diturunkan Seiring Lancingan dalam.

Kontolnya melompat keluar. Panjang Sekeliling 19 cm, tebal seperti pergelangan lenganku, urat-urat menonjol di sepanjang batang, kepala bulat merah keunguan telah basah di ujung dikarenakan precum. Bulu kemaluan hitam rapi dipangkas, bola-bolanya Akbar dan berat menggantung.

Saya menatapnya terpana. Takut. Penasaran. Lapar.

Beliau meraih rambutku lagi, menarikku turun Tiba Menyerah di lantai lorong sempit tidak jauh pintu Bilik mandi. Kepala kontolnya Pas di Ambang bibirku.

“Buka mulut,” perintahnya.

Saya membuka. Beliau langsung mendorong masuk. Kepala kontolnya memenuhi mulutku, Selera Masin precum langsung terasa di lidah. Beliau mendorong lebih dalam Tiba menyentuh tenggorokan. Saya tersedak, air mata mengalir.

“Tenang… tarik napas dari hidung,” katanya Sembari tetap mendorong pelan tapi Niscaya. “Anda Memperoleh deepthroat, kan? Saya tahu wanita sepertimu Niscaya pernah dilatih.”

Saya mengangguk lemah Sembari menahan muntah. Beliau mulai menggerakkan pinggul, mengentot mulutku pelan dulu, Lampau makin Sigap. Bunyi “gluk… gluk… gluk…” basah terdengar setiap kali kontolnya masuk Tiba pangkal. Air liur menetes dari Pandang Perspektif bibirku, membasahi dagu dan buah dadad.

Beliau menarik keluar tiba-tiba, kontolnya berkilau penuh air liur. “Cukup foreplay. Sekarang giliran memekmu dihancurkan.”

Beliau menarikku berdiri, memutar tubuhku menghadap cermin Akbar di Tembok lorong. Pantatku Nan montok terlihat Jernih di pantulan. Beliau menekan punggungku agar membungkuk, tangan kirinya memegang pinggul, tangan kanan memandu kontolnya ke pintu masuk vagina.

“Mas… pelan dulu… gede banget…” pintaku lirih.

“Pelan? Memekmu udah nganga minta diisi,” ejeknya. Lampau Beliau mendorong keras sekali.

Kepala kontolnya masuk, membelah mulut vagina Nan telah bengkak. Saya menjerit keras. Selera penuh, sakit, nikmat bercampur jadi Esa. Beliau Tak berhenti, Lanjut mendorong Tiba seluruh batang masuk, bola-bolanya menempel di klitorisku.

“Aaaahhhh! Penuh… Mas… hancur…!” jeritku.

Beliau mulai mengentot. Keras. Sigap. Setiap dorongan Membikin payudaraku bergoyang liar, pantatku bergetar dikarenakan benturan. Bunyi “plok-plok-plok” basah memenuhi lorong sempit itu. Bau keringat, aroma memek basah, dan cairan Nan menetes ke lantai bercampur jadi Esa.

Beliau menampar pantatku keras. “Bilang! Bilang Anda budak kontol Saya!”

“A-Saya… budak kontol Mas Rama…!” Saya menjerit di antara desahan.

“Lebih keras! Minta dihancurkan!”

“Hancurkan memekku Mas! Ngentot Saya Tiba lemas! Saya mau jadi budak kontolmu Lanjut!”

Beliau tertawa puas. Tarikanku ke belakang lebih keras, Membikin punggung melengkung ekstrem. Beliau mengentot lebih dalam, kepala kontolnya menabrak serviks lagi dan lagi-ulang. Saya orgasme pertama datang tiba-tiba—tubuhku kejang, memekku mengencang kuat mencengkeram kontolnya, cairan bening menyembur keluar membasahi paha kami berdua.

“Squirt pertama… bagus,” katanya Sembari Lanjut mengentot tak memakai Jarak. “Tetap Memperoleh lagi kan?”

Saya Hanya Memperoleh mengangguk lemah, air mata dan air liur bercampur di Paras.

Beliau menarik kontol keluar, memutar tubuhku lagi, mengangkat kakiku kiri ke atas bahunya. Posisi ini Membikin vagina terbuka lebar. Beliau masuk lagi, kali ini lebih brutal. Setiap dorongan Membikin kepalaku membentur Tembok lorong. Saya menjerit tak memakai Bunyi lagi, tenggorokan telah serak.

Orgasme kedua datang lebih Sigap. Kali ini Saya squirt lagi, lebih cukup banyak, membasahi lantai Tiba bergenang Mini. Lututku gemetar hebat.

Rama menarik kontol keluar, memegang batangnya sendiri, mengocok Sigap di Ambang wajahku. “Buka mulut. Terima hadiah pertama.”

Saya membuka. Sperma panas menyembur deras—pertama ke lidah, kedua ke pipi, ketiga ke buah dadad. Selera Masin pekat memenuhi mulut. Saya menelan sebagian, sisanya menetes ke dagu.

Beliau Tetap keras. Kontolnya Tak turun Baju sekali.

Beliau menarikku ke Bilik tidur. Melemparku ke kasur. “Belum selesai, Laras. Malam ini baru mulai.”

Saya terbaring lemas, memek merah bengkak, sperma Tetap menetes dari Paras dan dada. Tapi mataku… Tetap lapar.

Beliau naik ke atas kasur, kontolnya lagi-lagi menempel di mulut vagina Nan telah Capek tapi Tetap berdenyut Dahaga.

“Besok malam Saya bawa temen. Anda siap dilatih bareng dua kontol?”

Saya menelan ludah. Tubuh gemetar. Tapi mulutku berbisik pelan, Nyaris Tak terdengar:

“…siap, Mas.”

Aku terbaring telentang di kasur Rama, kaki masih terbuka lebar, memek merah bengkak berdenyut-denytut karena dua orgasme squirt tadi. Sperma masih lengket di wajah, dada, dan dagu—asin dan pekat, baunya memenuhi hidung setiap kali aku tarik napas. Tubuhku lemas, tapi anehnya… masih haus. Pinggulku sendiri bergerak kecil-kecil tanpa sadar, mencari gesekan meski kontol Rama belum masuk lagi.
Dia berdiri di ujung kasur, kontolnya masih tegak keras, berkilau campuran air liur, cairanku, dan sisa sperma. Matanya gelap, penuh nafsu yang belum puas. Dia mengambil ponsel dari meja samping, mengetik cepat sambil tersenyum miring.
“Dia datang dalam sepuluh menit,” katanya pelan, suara serak karena bir dan hasrat. “Temen aku. Namanya Dito. Mantan rekan satu tim. Kontolnya lebih panjang dari aku, tapi lebih ramping. Cocok buat nembus belakang.”
Aku tersentak. Jantung berdegup kencang. “Mas… aku… aku nggak yakin…”
Dia mendekat, tangan kanannya meremas daguku keras, memaksa aku menatap matanya. “Kamu bilang siap tadi. Dan memekmu masih banjir. Jangan bohong sama diri sendiri, Laras. Kamu mau ini. Mau diisi dua kontol sekaligus sampai nggak bisa jalan besok pagi.”
Aku menelan ludah. Air mata menetes lagi, tapi bukan karena takut murni—ada campuran malu, penasaran, dan hasrat yang sudah membakar habis akal sehat. Aku mengangguk pelan.
“Bagus,” katanya sambil melempar ponsel ke samping. “Sekarang berdiri. Hadap dinding. Posisi tadi. Tangan di dinding, bokong ke belakang.”
Aku patuh. Kakiku gemetar saat berdiri, punggung membungkuk, tangan menempel dinding dingin lorong sempit yang masih berbau keringat dan seks. Pantatku terangkat tinggi, memek terbuka lebar dari belakang, cairan bening masih menetes ke lantai membentuk genangan kecil.
Rama berdiri di belakangku. Kontolnya menempel di celah pantat, gesek pelan dulu, mengoleskan sisa cairan ke lubang belakang yang belum pernah disentuh siapa pun selain jari sendiri waktu sendirian. Aku menegang.
“Tenang… aku nggak langsung masuk situ,” bisiknya di telinga. “Dito yang lebih suka belakang. Aku mau depan dulu. Biar memekmu terbiasa lagi.”
Dia mendorong masuk dari belakang. Posisi ini membuat kontolnya terasa lebih dalam, kepalanya langsung menabrak serviks. Aku mengerang panjang, suara bergema di lorong sempit. “Aaaahhh… Mas… dalam banget…”
Dia mulai mengentot lagi, tangan kirinya meraih rambut ponytailku, menarik kepalaku ke belakang sampai leher melengkung ekstrem. Tangan kanannya menampar pantatku berulang-ulang—keras, berbunyi “plak! plak! plak!” sampai kulit memerah panas. Setiap tamparan membuat memekku mengencang, mencengkeram kontolnya lebih kuat.
“Bilang kamu jalang apartemen yang suka dihancurkan dua kontol!” bentaknya.
“A-aku… jalang apartemen… suka dihancurkan dua kontol…!” jeritku, suara pecah karena tarikan rambut.
Pintu apartemen terbuka pelan. Aku mendengar langkah kaki berat mendekat. Bau parfum baru, lebih tajam, lebih maskulin. Dito masuk. Tinggi hampir sama dengan Rama, tapi lebih ramping, otot lebih kering, tato minimalis hanya di lengan kiri. Rambut gondrong diikat ke belakang, mata hitam tajam. Dia langsung melepas kaus dan celana tanpa bicara banyak, kontolnya sudah setengah keras—panjang sekali, mungkin 21 cm, ramping tapi kepalanya besar.
Dia mendekat, berdiri di depanku. Kontolnya tepat di depan wajahku yang sudah basah air mata dan sperma.
“Buka mulut,” katanya singkat. Suaranya lebih dingin dari Rama, tapi sama dominannya.
Aku membuka. Dia langsung mendorong masuk. Rasa berbeda—lebih panjang, menyentuh tenggorokan lebih dalam. Aku tersedak lagi, tapi Rama di belakang tidak berhenti mengentot. Tubuhku bergoyang maju mundur seperti boneka, mulut diisi kontol Dito, memek dihancurkan kontol Rama.
Suara basah “gluk-gluk” dari mulut dan “plok-plok” dari memek bercampur jadi satu. Bau keringat dua pria, aroma sperma, aroma memekku yang sudah terbuka lebar—semuanya memenuhi lorong sempit itu.
Rama menarik keluar tiba-tiba. “Ganti posisi. Ke kasur.”
Mereka mengangkatku seperti boneka. Aku dilempar ke kasur telentang. Dito naik ke atas, memposisikan dirinya di antara kakiku. Kontol rampingnya langsung menyusup masuk ke memek yang sudah licin dan longgar karena Rama tadi. Rasa penuh berbeda—lebih dalam, lebih menusuk.
Sementara itu Rama naik ke kepalaku, kontolnya menempel di bibir. “Jilat bola aku sambil Dito ngentot.”
Aku menurut. Lidahku menjilat bola-bola besar Rama yang berat, rasa asin keringat dan sperma. Dito mulai mengentot cepat, tangannya meremas payudaraku keras, mencubit puting sampai memerah.
Aku orgasme lagi. Ketiga kalinya malam ini. Cairan menyembur deras, membasahi perut Dito. Tubuhku kejang hebat, tapi mereka tidak berhenti.
“Ganti lagi,” kata Rama.
Mereka memutar tubuhku. Aku sekarang doggy style di kasur, pantat tinggi. Dito masuk ke memek dari belakang, Rama ke mulut dari depan. Mereka mengentot bersamaan, irama sinkron—setiap dorongan Dito membuat mulutku maju menelan kontol Rama lebih dalam.
Aku tidak bisa berpikir lagi. Hanya desahan, jeritan tertahan, dan rasa penuh di dua lubang. Memekku bengkak parah, klitoris sensitif sekali setiap gesekan.
Rama menarik keluar dari mulut, bergerak ke belakang. “Sekarang double. Dito depan, aku belakang.”
Aku panik. “Mas… lubang belakangku… belum pernah…”
“Malam ini pertama kalinya,” katanya sambil mengoleskan cairan memekku ke lubang anus sebagai pelumas. Jari tengahnya menyusup pelan, membuka sedikit demi sedikit. Rasa perih bercampur aneh nikmat.
Dito tetap di memek, kontolnya diam dulu. Rama mendorong kepala kontolnya ke lubang belakang. Perlahan. Sakit. Sangat sakit. Aku menjerit keras, air mata mengalir deras.
“Tahan… jalang. Kamu bisa,” bisik Rama sambil terus mendorong.
Akhirnya masuk. Penuh. Sangat penuh. Dua kontol di dua lubang sekaligus. Aku merasa seperti akan robek, tapi juga… nikmat yang belum pernah kurasakan. Mereka mulai bergerak pelan dulu, lalu semakin cepat.
Aku orgasme keempat. Squirt lagi, lebih deras, membasahi kasur sampai basah kuyup. Tubuhku kejang tanpa henti. Jeritanku pecah, suara serak habis.
Mereka tidak tahan lagi. Dito menarik keluar, menyemburkan sperma panas ke punggung dan pantatku. Rama menarik dari belakang, menyembur ke dalam anus—rasa hangat mengalir di dalam. Aku merasakan sperma menetes keluar dari lubang belakang, bercampur cairanku.
Aku ambruk ke kasur. Tubuh gemetar hebat. Memek dan anus merah bengkak, sperma menetes dari mana-mana. Payudara penuh bekas remasan dan gigitan. Wajah basah air mata, air liur, sperma.
Rama dan Dito berdiri di samping kasur, kontol mereka akhirnya lemas, tapi masih berkilau.
Rama membungkuk, mencium keningku pelan—pertama kalinya ada kelembutan malam ini.
“Besok malam… kita ulang. Tapi kali ini di rooftop apartemen. Malam hujan lagi. Biar kamu basah dari luar juga.”
Aku tidak bisa bicara. Hanya mengangguk lemah. Mataku tertutup. Tubuh lemas total.
Tapi di dalam hati… aku tahu.
Aku sudah ketagihan.
Dan malam itu… baru permulaan.
TAMAT

Saya terbaring telentang di kasur Rama, kaki Tetap terbuka lebar, memek merah bengkak berdenyut-denytut dikarenakan dua orgasme squirt tadi. Sperma Tetap lengket di Paras, dada, dan dagu—Masin dan pekat, baunya memenuhi hidung setiap kali Saya tarik napas. Tubuhku lemas, tapi anehnya… Tetap Dahaga. Pinggulku sendiri Beralih Mini-Mini tak memakai sadar, mencari gesekan meski kontol Rama belum masuk lagi.

Beliau berdiri di ujung kasur, kontolnya Tetap tegak keras, berkilau campuran air liur, cairanku, dan Residu sperma. Matanya gelap, penuh nafsu Nan belum puas. Beliau mengambil ponsel dari meja samping, mengetik Sigap Sembari tersenyum miring.

“Beliau datang dalam sepuluh menit,” katanya pelan, Bunyi serak dikarenakan bir dan hasrat. “Temen Saya. Namanya Dito. Mantan rekan Esa tim. Kontolnya lebih panjang dari Saya, tapi lebih ramping. Cocok Lakukan nembus belakang.”

Saya tersentak. Jantung berdegup kencang. “Mas… Saya… Saya nggak Percaya…”

Beliau mendekat, tangan kanannya meremas daguku keras, memaksa Saya menatap matanya. “Anda bilang siap tadi. Dan memekmu Tetap banjir. Jangan Dusta Baju diri sendiri, Laras. Anda mau ini. Mau diisi dua kontol sekaligus Tiba nggak Memperoleh jalan besok pagi.”

Saya menelan ludah. Air mata menetes lagi, tapi bukan dikarenakan takut murni—Eksis campuran malu, penasaran, dan hasrat Nan telah membakar habis Budi sehat. Saya mengangguk pelan.

“Bagus,” katanya Sembari melempar ponsel ke samping. “Sekarang berdiri. Hadap Tembok. Posisi tadi. Tangan di Tembok, bokong ke belakang.”

Saya Taat. Kakiku gemetar disaat berdiri, punggung membungkuk, tangan menempel Tembok dingin lorong sempit Nan Tetap berbau keringat dan seks. Pantatku terangkat tinggi, memek terbuka lebar dari belakang, cairan bening Tetap menetes ke lantai membentuk genangan Mini.

Rama berdiri di belakangku. Kontolnya menempel di celah pantat, gesek pelan dulu, mengoleskan Residu cairan ke lubang belakang Nan belum pernah disentuh siapa pun selain jari sendiri Masa sendirian. Saya menegang.

“Tenang… Saya nggak langsung masuk situ,” bisiknya di telinga. “Dito Nan lebih suka belakang. Saya mau Ambang dulu. Biar memekmu terbiasa lagi.”

Beliau mendorong masuk dari belakang. Posisi ini Membikin kontolnya terasa lebih dalam, kepalanya langsung menabrak serviks. Saya mengerang panjang, Bunyi bergema di lorong sempit. “Aaaahhh… Mas… dalam banget…”

Beliau mulai mengentot lagi, tangan kirinya meraih rambut ponytailku, menarik kepalaku ke belakang Tiba leher melengkung ekstrem. Tangan kanannya menampar pantatku lagi dan lagi-ulang—keras, berbunyi “plak! plak! plak!” Tiba kulit memerah panas. Setiap tamparan Membikin memekku mengencang, mencengkeram kontolnya lebih kuat.

“Bilang Anda jalang apartemen Nan suka dihancurkan dua kontol!” bentaknya.

“A-Saya… jalang apartemen… suka dihancurkan dua kontol…!” jeritku, Bunyi pecah dikarenakan tarikan rambut.

Pintu apartemen terbuka pelan. Saya mendengar langkah kaki berat mendekat. Bau parfum baru, lebih tajam, lebih maskulin. Dito masuk. Tinggi Nyaris Baju bersama Rama, tapi lebih ramping, otot lebih kering, tato minimalis hanya di lengan kiri. Rambut gondrong diikat ke belakang, mata hitam tajam. Beliau langsung melepas kaus dan Lancingan tak memakai berkata cukup banyak, kontolnya telah Separuh keras—panjang sekali, mungkin 21 cm, ramping tapi kepalanya Akbar.

Beliau mendekat, berdiri di depanku. Kontolnya Pas di Ambang wajahku Nan telah basah air mata dan sperma.

“Buka mulut,” katanya Cepat. Suaranya lebih dingin dari Rama, tapi Baju dominannya.

Saya membuka. Beliau langsung mendorong masuk. Selera berbeda—lebih panjang, menyentuh tenggorokan lebih dalam. Saya tersedak lagi, tapi Rama di belakang Tak berhenti mengentot. Tubuhku bergoyang maju mundur seperti boneka, mulut diisi kontol Dito, memek dihancurkan kontol Rama.

Bunyi basah “gluk-gluk” dari mulut dan “plok-plok” dari memek bercampur jadi Esa. Bau keringat dua pria, aroma sperma, aroma memekku Nan telah terbuka lebar—semuanya memenuhi lorong sempit itu.

Rama menarik keluar tiba-tiba. “mengganti posisi. Ke kasur.”

Mereka mengangkatku seperti boneka. Saya dilempar ke kasur telentang. Dito naik ke atas, memposisikan dirinya di antara kakiku. Kontol rampingnya langsung menyusup masuk ke memek Nan telah licin dan Lenggang dikarenakan Rama tadi. Selera penuh berbeda—lebih dalam, lebih menusuk.

Fana itu Rama naik ke kepalaku, kontolnya menempel di mulut. “menjilat bola Saya Sembari Dito ngentot.”

Saya menurut. Lidahku menjilat bola-bola Akbar Rama Nan berat, Selera Masin keringat dan sperma. Dito mulai mengentot Sigap, tangannya meremas payudaraku keras, mencubit pentil Tiba memerah.

Saya orgasme lagi. Ketiga kalinya malam ini. Cairan menyembur deras, membasahi perut Dito. Tubuhku kejang hebat, tapi mereka Tak berhenti.

“mengganti lagi,” kata Rama.

Mereka memutar tubuhku. Saya sekarang doggy style di kasur, pantat tinggi. Dito masuk ke memek dari belakang, Rama ke mulut dari Ambang. Mereka mengentot bersamaan, irama Sesuai—setiap dorongan Dito Membikin mulutku maju menelan kontol Rama lebih dalam.

Saya Tak Memperoleh berpikir lagi. Hanya desahan, jeritan tertahan, dan Selera penuh di dua lubang. Memekku bengkak parah, klitoris sensitif sekali setiap gesekan.

Rama menarik keluar dari mulut, Beralih ke belakang. “Sekarang double. Dito Ambang, Saya belakang.”

Saya panik. “Mas… lubang belakangku… belum pernah…”

“Malam ini pertama kalinya,” katanya Sembari mengoleskan cairan memekku ke lubang anus sebagai pelumas. Jari tengahnya menyusup pelan, membuka sedikit demi sedikit. Selera perih bercampur aneh nikmat.

Dito tetap di memek, kontolnya Tenang dulu. Rama mendorong kepala kontolnya ke lubang belakang. Perlahan. Sakit. Sangat sakit. Saya menjerit keras, air mata mengalir deras.

“Tahan… jalang. Anda Memperoleh,” bisik Rama Sembari Lanjut mendorong.

Akhirnya masuk. Penuh. Sangat penuh. Dua kontol di dua lubang sekaligus. Saya merasa seperti akan robek, tapi juga… nikmat Nan belum pernah kurasakan. Mereka mulai Beralih pelan dulu, Lampau makin Sigap.

Saya orgasme keempat. Squirt lagi, lebih deras, membasahi kasur Tiba basah kuyup. Tubuhku kejang tak memakai henti. Jeritanku pecah, Bunyi serak habis.

Mereka Tak tahan lagi. Dito menarik keluar, menyemburkan sperma panas ke punggung dan pantatku. Rama menarik dari belakang, menyembur ke dalam anus—Selera hangat mengalir di dalam. Saya merasakan sperma menetes keluar dari lubang belakang, bercampur cairanku.

Saya ambruk ke kasur. Tubuh gemetar hebat. Memek dan anus merah bengkak, sperma menetes dari mana-mana. buah dadad penuh bekas remasan dan gigitan. Paras basah air mata, air liur, sperma.

Rama dan Dito berdiri di samping kasur, kontol mereka akhirnya lemas, tapi Tetap berkilau.

Rama membungkuk, mencium keningku pelan—pertama kalinya Eksis kelembutan malam ini.

“Besok malam… kita ulang. Tapi kali ini di rooftop apartemen. Malam hujan lagi. Biar Anda basah dari luar juga.”

Saya Tak Memperoleh berkata. Hanya mengangguk lemah. Mataku tertutup. Tubuh lemas total.

Tapi di dalam hati… Saya tahu.

Saya telah ketagihan.

Dan malam itu… baru permulaan.

TAMAT

By n9wna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *